Other

"Unmet Need" Tinggi, Kepala BKKBN Minta Penyuluh Genjot KB Pasca Persalinan

img title

Petroenergy.id, JAKARTA - Penyuluh KB dan seluruh jajaran BKKBN harus terus bekerja keras meningkatkan capaian akseptor KB baru maupun akseptor KB aktif, karena "unmet need" masih di angka 12,4 persen (Survei RPJMN/SKAP 2018).

Hal itu diungkap Kepala BKKBN, dr. Hasto Wardoyo, saat membuka Workshop Metode Penyuluhan Keluarga Berencana bagi Penyuluh KB secara daring, Rabu (08/09/2021).

Unmet need adalah proporsi wanita usia subur berstatus kawin yang tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai kontrasepsi.

Menurut Hasto, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkannya melalui pasangan yang baru menikah, KB pasca persalinan (PP), dan pasca keguguran (PK).

Kepala BKKBN yang juga seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi menegaskan, Penyuluh KB harus tahu pelayanan yang akan diberikan. "Seperti KB pasca persalinan, sebaiknya menggunakan kontrasepsi apa. Pasca persalinan bisa menggunakan "progesterone only pil" agar ibu bisa tetap menyusui," ujar Hasto.

Hasto mengingatkan, jangan sampai penyuluh KB  tidak mengetahui hal dasar dan penting seperti itu. "Kemudian, begitu melahirkan (ibu) bisa langsung juga menggunakan implant/susuk dan tentu saja kontrasepsi non hormonal seperti IUD (intrauterine device/alat kontrasepsi dalam rahim),” tegas Hasto.

KB Pasca Persalinan merupakan upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan metode/alat/obat kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari/6 minggu setelah melahirkan.

Sedangkan KB Pasca Keguguran merupakan upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat/obat kontrasepsi setelah mengalami keguguran sampai dengan kurun waktu 14 hari.

Hasto menambahkan, apabila ibu yang baru melahirkan ditanya, apakah tahun ini ingin hamil lagi? pasti akan dijawab tidak. Tapi kemudian ditanya lagi apakah mau menggunakan kontrasepsi, banyak yang menjawab tidak juga. Sehingga banyak terjadi kehamilan yang tidak direncanakan atau belum ingin hamil (unwanted pregnancy).

"Maka, saya berpesan agar KB pasca persalinan ini bisa sukses dan kita lebih agresif lagi meski di tengah pandemi,” tambahnya.

Terkait dengan workshop menurut Dokter Hasto sangat penting, karena penyuluh KB harus mempunyai kompetensi dan "product knowledge" baru, sehingga mempunyai kepercayaan diri menjadi seorang “marketing” yang baik.

BKKBN memang mempunyai banyak materi yang harus disampaikan pada masyarakat, tidak hanya materi kontrasepsi atau KB namun juga menguasai materi lain seperti covid 19, stunting dan program pembangunan keluarga, dan kependudukan.

Workshop Metode Penyuluhan Keluarga Berencana bagi Penyuluh KB merupakan kerjasama DKT Indonesia dan Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana Indonesia (IPeKB). Kegiatan ini akan dilaksanakan secara daring di 12 Provinsi.

Hadir dalam pembukaan workshop, Country Director/CEO DKT Indonesia, Juan Enrique Garcia; Deputi Bid. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, dr.Eni Gustina; Deputi Bid. Pelatihan Penelitian dan Pengembangan, Prof. Rizal Martua Damanik; Penyuluh KB Utama, Dwi Listyawardani dan Ketua DPP IPeKB, Fatah Triyana.

Menutup sambutannya, Hasto mengatakan, pemerintah harus bekerjasama dengan swasta, perguruan tinggi dan NGO untuk mensukseskan program pelayanan di tengah masyarakat. [san]

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category