Other

Menikah Usia Muda Sebabkan Tulang Perempuan Keropos

img title

Petroenergy.id, JAKARTA - Dalam program prioritas nasional, BKKBN memiliki kontribusi terhadap peningkatan kesehatan ibu anak, KB dan kesehatan reproduksi (kespro). Strateginya berfokus di antaranya pada peningkatan pengetahuan dan akses layanan kesehatan reproduksi bagi remaja.

Remaja menjadi sasaran program karena jumlahnya terbilang cukup banyak. Data Sensus Penduduk tahun 2020, menunjukkan jumlah remaja (usia 10 – 24 tahun) sebanyak 67 juta jiwa atau 24% dari total penduduk Indonesia.

"Maka, remaja menjadi fokus perhatian penting dalam pembangunan nasional," ujar Direktur Bina Kesehatan Reproduksi, Mukhtar Bakti, mewakili Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, Kamis (22/7/2021), secara virtual.

Dalam kegiatan "Hari Puncak Ajang Kreativitas di Komunitas Remaja - Ajang Kespro Kawula Muda" (AKUKAMU), Mukhtar mengatakan masalah kesehatan reproduksi pada remaja harus mendapat perhatian serius.

Perhatian dari banyak pihak diperlukan lantaran berkaitan erat dengan perilaku remaja yang berisiko, di antaranya merokok, minum-minuman beralkohol, penyalahgunaan narkoba, dan seks pranikah.

Berdasarkan survei SDKI Tahun 2017, terdapat 55% remaja pria dan 1% remaja wanita merokok, 15% remaja pria dan 1% remaja wanita menggunakan obat terlarang, 5% remaja pria minum minuman beralkohol, serta 8% remaja pria dan 1% remaja wanita pernah melakukan hubungan seksual saat pacaran.

“Perilaku berisiko remaja disebabkan rendahnya pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi di mana hal ini dapat berisiko memicu terjadinya hal-hal yang tak diinginkan. Di antaranya penyakit menular seksual dan kehamilan tidak diinginkan,” jelas Mukhtar.

Sementara itu Kepala BKKBN, dr. Hasto Wardoyo, mengemukakan bahwa sebenarnya tidak sulit menjadi remaja melek kespro. "Contoh perempuan menstruasi, tetapi banyak yang tidak tahu mengenai menstruasi. Ada remaja tidak tahu anemia. Saat ini hampir 43% lebih wanita hamil dalam keadaan anemia, anaknya kemudian menjadi stunting."

"Atau," lanjut Hasto, "banyak remaja tidak mengerti bahwa kawin di bawah usia 21 tahun dan hamil di usia 14, 15, 16 tahun bisa menyebabkan kematian bayi dan pendarahan pada ibu."

Dampak negatif lainnya pada remaja perempuan yang hamil di bawah usia 21 tahun adalah tidak bisa bertambah tinggi. Ini karena hormon pertumbuhan yang memiliki efek langsung pada pertumbuhan tulang beralih ke bayi yang dikandung.

"Perempuan itu kalau sudah berumur 50 tahun, mulai menopause, tulangnya akan keropos dan mudah patah ketika jatuh. Itu ada hubungannya waktu hamil terlalu muda,” ungkap Hasto. [san]

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category