Maritime

Mengenal Teknologi ‘Keterlacakan’ di Kapal Ikan

img title

Petroenergy.id, JAKARTA - Sistem keterlacakan pada produk ikan berguna untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan bahari (seafood). Keterlacakan juga menjadi faktor penting dalam skema label ramah lingkungan, seperti "Marine Stewardship Council" (MSC) dan "Fair Trade Fisheries".

Namun, melacak dari mana ikan berasal bukan perkara mudah karena sebagian besar ikan memiliki pergerakan sangat tinggi.

Untuk itulah Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) Bali telah memperkenalkan teknologi untuk melacak asal usul ikan dalam program keterlacakan.

Yayasan yang berkantor di Denpasar, Bali, ini mengembangkan "Traceability-Based Technology" (TBT). Teknologi ini menggunakan pertukaran informasi dua arah antara nelayan, pengolah, dan penjual, khususnya ikan tuna.

Koordinator Keterlacakan MDPI, Wahyu Teguh Prawira, seperti dikutip dari mongabay.com, pernah menjelaskan ada dua teknologi mereka gunakan untuk melacak asal usul ikan tuna. Pertama, "FlyWire Camera". Kedua, "Timelapse Camera".

FlyWire Camera merupakan sistem pemantauan secara elektronik berbiaya rendah. Teknologi ini didesain untuk pelaku bisnis perikanan skala kecil, memiliki fitur rekaman video dan pelacakan lokasi.

Hasilnya, berupa data dan dokumentasi penangkapan ikan dalam resolusi tinggi (high definition resolution/HDR). Teknologi ini bisa menggantikan fungsi hadirnya seorang pemantau di kapal.

Kamera beroperasi menggunakan panel surya, beroperasi hingga 24 jam dilengkapi dengan pengisi daya dan aki. Kamera ditempatkan di kapal penangkap dengan kapasitas lebih dari 5 GT. Kamera bisa dipantau kapan saja.

FlyWire Camera diperuntukkan kapal yang melaut hingga tujuh hari. Namun, MDPI sudah mencoba untuk kapal yang melaut 10-14 hari. Untuk itu, kamera diatur hanya merekam lima jam per hari agar memori tidak cepat terisi penuh.

Sistem kedua adalah Timelapse Camera (TLC). Sistem ini pada dasarnya berupa rekaman video yang dipercepat dengan mode "time lapse", sekaligus mendeteksi lokasi perahu penangkap karena dikombinasikan dengan sistem pelacak berdasarkan lokasi atau global position system (GPS).

Jika FlyWire Camera menyasar kapal-kapal di atas 5 GT, TLC lebih banyak untuk perahu-perahu kecil di bawah 10 GT, yang melaut dalam waktu sehari (one day fishing).

Dalam sekali melaut, perahu yang dilengkapi TLC menghabiskan sekitar 1 GB video dalam format dipercepat. Dari rekaman itu, menurut Wahyu, bisa diketahui bagaimana perlakuan nelayan terhadap tuna, perilaku selama melaut, hingga apa saja satwa langka yang tertangkap.

Memantau Pergerakan Kapal

Selain menggunakan kamera, MDPI juga menggunakan dua jenis alat untuk memantau pergerakan kapal, yaitu "Pelagic Data Systems" (PDS) dan "Spot Trace".

PDS merupakan sistem pelacakan kapal, didesain spesifik untuk kapal-kapal kecil. Alat ini memberikan data kecepatan, kegiatan, dan analisis data untuk penggunanya. Alat ini bisa diakses oleh nelayan maupun pemasok (supplier).

Dikembangkan pertama kali di jantung industri teknologi informasi global Silicon Valley, San Fransisco, Amerika Serikat pada 2014, sistem ini menyabet "Seafood Champion Award for Innovation" pada 2018.

Penghargaan itu diraih karena dinilai bisa menjadi alat dalam menjawab tantangan ekologis, kebutuhan pasar, dan halangan dalam keberlanjutan industri perikanan.

Adapun Spot Trace memanfaatkan satelit untuk menentukan lokasi kapal pengguna alat ini. Dengan menyajikan informasi terkait posisi dan pergerakan kapal secara langsung (real time).

Database iFish

Data yang diperoleh dari sistem pemantauan maupun pelacakan kapal selanjutnya masuk ke dalam database yang dikembangkan MDPI. Database ini bernama iFish (Indonesian Fisheries Information System - Sistem Informasi Perikanan Indonesia).

“Aplikasi ini merupakan bagian dari proses teknologi berbasis keterlacakan (TBT),” kata I Gede Sujana Eka Putra, Pengembang Perangkat Lunak Yayasan MDPI.

Gede menjelaskan iFish berfungsi mengumpulkan, menyimpan, dan membagi data dari pelaku bisnis perikanan skala kecil di Indonesia bagian timur. Tak hanya nelayan, proses tersebut juga melibatkan petugas lapangan MDPI, pemasok, dan pengolah ikan.

Sejak 2017, aplikasi ini terdapat di Google Play Store. Melalui aplikasi ini para pencatat data (enumerator) tinggal memasukkan data tangkapan nelayan kecil. “Petugas di lapangan tinggal bawa ponsel untuk memasukkan dan mengunggah data secara daring,” ujar Gede. [harjo]

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category