Investment

Mamit Setiawan : Industri Hulu Migas Masih Memberikan Peluang Besar Bagi Perbankan Nasional

img title

Petroenergy.id, Jakarta - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) masih memberikan peluang besar bagi industri perbankan nasional untuk memainkan perannya dalam mendorong kelancaran transaksi di sektor hulu migas nasional.

Hal diatas ditegaskan Direktur Execitive Energy Watch, Mamit Setiawan ketika bebicara pada webinar bertema Arah Baru Industri Migas "Peran Industri Perbankan Nasional di Industri Migas" yang diselenggarakan website ruangenergi.com, Energy Watch yang didukung oleh SKK Migas, di Jakarta, Kamis (19/8/2021).

"Saya akui, kalau dilihat dari target investasi itu menurun. Namun, ini nilainya masih cukup besar, dimana 15,3 miliar (M) di tahun 2015; 11,6M di tahun 2016; 10,3M di tahun 2017; 12,6M tahun 2018; 11,49 tahun 2019; 10,21M tahun 2020; dan 12,38M adalah target 2021. Artinya, dilihat dari nilai investasi ini masih cukup menjanjikan," kata Mamit Setiawan.

Mamit Setiawan manambahkan bahwa ke depan peluang-peluang itu akan bertambah menjadi lebih besar lagi mengingat, Kementerian ESDM mendorong penuh pencapai target 1 juta barel per hari tahun 2030 yang telah dicanangkan oleh SKK Migas. Menurutnya, hal ini akan memicu peningkatan investasi di sektor hulu migas yang tentunya memberikan peluang bagi industri perbankan nasional.

Mamit Setiawan menjelaskan peluang perbankan tidak hanya menyangkut sisi KKKS saja, akan tetapi justru yang lebih besar lagi dari sisi industri jasa penujang operasi hulu migas.

"Saya pikir, peluang  itu tidak hanya didapat dari sisi KKKS semata tetapi juga dari sisi industri jasa penunjang," kata Mamit Setiawan sambil menambahkan, "Jasa penunjang hulu migas terdiri jasa konstruksi, non-konstruksi serta jasa industri."

Ditambahkannya, sesuai data tahun 2018, terdapat 199 perusahaan jasa penunjang migas terdaftar, yaitu terdiri dari 46 jasa konstruksi, 144 non-konstruksi dan 9 jasa industri.

Pada kesempatan itu, Mamit juga menjelaskan bahwa berdasarkan data working area, di Indonesia terdapat 131 wilayah kerja (WK) migas yang terdiri dari 63 WK di Region 1 (wilayah barat Indonesia), 46 WK di Region 2 (wilayah tengah Indonesia dan 22 WK di Region 3 (wilayah timur Indonesia).

"Nah, ini bila dihubungkan dengan pencapaian target 1 juta barel per hari 2030, maka tentu working area yang berada di tiga region itu aktivitasnya  akan meningkat sekaligus memerlukan peran perbankan nasional terutama untuk mendukung percepatan pencapaian target 1 juta bareal tersebut," kata Mamit Setiawan.

Pada bagian lain pengamat energi  Mamit Setiawan juga mengemukakan bahwa KKKS, industri penunjang dan perbankan nasional memang harus besinergi dalam rangka menekan penggunaan jasa bank asing yang beroperasi di Indonesia.

"Menurut saya, perlunya sinergi antara KKKS, jasa penunjang, dan industri perbankan nasional adalah dalam rangka menekan larinya peredaran uang ke luar negeri," kata Mamit Setiawan.

Namun demikian, Mamit juga sependapat dengan para pelaku industri hulu migas bahwa bank nasional harus bisa memberikan kemudahan antara lain berupa penurunan suku bunga.(mk)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category