Maritime

Lobster, Di Antara Indonesia - Vietnam

img title

Petroenergy.id, Jakarta - Indonesia akan berupaya mengungguli Vietnam sebagai negara dengan pengekspor lobster siap konsumsi terbesar di dunia.

Setidaknya itulah tekad jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dikomandoi Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

Sejauh ini, Vietnam masih menjadi pengekspor lobster karena keunggulan dalam budidaya. Ironisnya, benih atau bibit lobster justru didatangkan dari Indonesia. Data KPP menunjukkan hampir 99% pasar lobster dunia dari Vietnam.

Untuk itu, di era Menteri Trenggono, ekspor bibit benur lobster kembali distop. Menteri tidak ingin benih lobster Indonesia dinikmati negara lain, seperti Singapura dan Vietnam.

Solusinya, budidaya. Indonesia mampu karena memiliki potensi besar untuk membudidaya benih lobster hingga besar dan siap konsumsi. Saat ini, Indonesia hanya memperoleh pendapatan kecil dari ekspor benih lobster. Padahal, nilai yang bisa diperoleh melalui budidaya jauh lebih besar.

Menteri Trenggono mencontohkan harga dasar lobster pasir hanya Rp 23.000/ekor dan lobster mutiara Rp 70.000/ekor. Setelah melalui budidaya satu tahun, harga 1 kilogram lobster bisa mencapai Rp 1 juta hingga lebih.

Nilai positif berikutnya, hasil laut lainnya bakal masuk dalam mata rantai budidaya lobster. "Bayangkan kalau 1 tahun dihitung cost dari mata rantainya, mulai dari kepiting sampai budidaya kerang hijau sebagai makanan lobster, menurut saya paling hanya 30% dari 'selling price' produk yang sudah jadi," tutur Menteri Trenggono pada satu kesempatan.

Dalam tiga tahun ke depan, Trenggono menyatakan akan fokus menciptakan pembudidaya lobster yang sukses di Indonesia. "Ini menjadi obsesi saya, dalam 3 tahun 10 bulan sampai 2024 harus lahir tiga atau empat pengusaha hebat, akan saya bimbing," janji Menteri Trenggono.

Sisi lain dari tekad Trenggono, ketika ekspor benur dilarang, akan semakin banyak modus penyelundupan benih lobster ke luar negeri. Data mencatat, sejak 23 Desember hingga 14 April 2021, ada 35 kasus penyelundupan dengan potensi kerugian Rp 210,08 miliar.

Ironisnya, penyelundupan benur lobster juga dibarengi dengan komoditas hasil perikanan lainnya, seperti kepiting, ikan hidup, ikan arwana, karang hias, lobster bertelur, kepiting 'undersize, hingga produk olahan perikanan tanpa izin.

Untuk mengantisipasi atau mempersempit ruang penyelundupan benih lobster, KKP sudah membangun kerjasama dengan berbagai pihak untuk mengatasinya. Ada kepolisian, pemerintah daerah, bea cukai hingga kejaksaan.

Bergantung Indonesia

Kenapa Vietnam sangat bergantung pada suplai benih lobster dari Indonesia? Berdasarkan informasi KKP, lobster terutama jenis panulirus sp merupakan habitat paling cocok di laut daerah tropis, dengan lautnya yang berkarang dan berpasir. Kondisi ini banyak sekali ditemukan di laut-laut Indonesia.

Meski juga memiliki perairan, ternyata Vietnam kurang banyak memiliki perairan yang ideal bagi kembang-biak lobster dibanding Indonesia.

Kelebihan lainnya, benih lobster di Indonesia bukan berasal dari budidaya breeding (pembenihan), melainkan banyak ditangkap nelayan di alam bebas.

Benih-benih dari alam ini yang banyak dibutuhkan petambak-petambak Vietnam untuk dibudidayakan dan dibesarkan sebelum kemudian diekspor.

Vietnam sendiri sudah menerapkan teknologi (pembesaran) lobster yang lebih maju. Namun sesungguhnya pembesaran lobster juga ada di Indonesia. Tinggal bagaimana pemerintah mendorong nelayan Indonesia melakukan pembesaran lobster.

Ekspor Menggiurkan

Ekspor benih lobster ibarat gelombang samudera. Pernah dilarang di era Menteri Susi Pudjiastuti. Namun larangan itu diperlonggar di era Menteri Edhy Prabowo. Di era Menteri Trenggono, kran ekspor benih lobster (benur) kembali ditutup.

Kini, KKP fokus membudidayakan lobster di dalam negeri, mengingat potensinya yang besar. KKP tampaknya tidak ingin lagi "memperkaya" Vietnam yang jadi pengekspor lobster terbesar di dunia.

Ekspor benih lobster menggiurkan. Memang. Ketika ekspor belum dilarang, pada Agustus 2020, contohnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadi lonjakan ekspor mencapai US$ 6,43 juta atau Rp 94,5 miliar (kurs Rp14.700). Ekspor ini meningkat selama pandemi Covid-19 dengan berat keseluruhan mencapai 4.216 kilogram.

Meningkatnya ekspor pada bulan itu lantaran benih lobster berlimpah. Kendati ekspor meningkat, KKP memastikan budidaya benih tetap berjalan dengan baik.

Masih berdasarkan data BPS, ekspor benur pada Agustus itu mengalami kenaikan 75,20 persen dibanding Juli 2020. Pada Juli, ekspor mencapai US$ 3,67 juta dengan berat 1.389 kilogram.

Sementara ekspor benur pada Juni sebesar US$112.900 juta. Dari segi kuantitas, ekspor benur melonjak 135,66 persen pada Agustus 2020.

Adapun negara pengimpor benih lobster Indonesia sepanjang Juli-Agustus 2020 adalah Taiwan dan Vietnam. Pada Agustus, ekspor benur masih didominasi Vietnam sebesar US$ 6,43 juta dengan berat 4.216 kilogram. Dibanding Juli, ekspor ini naik 202,95 persen yang hanya sekitar US$ 3,66 juta.

Sedangkan benur yang diekspor ke Taiwan hanya 8 kilogram dengan nilai transaksi mencapai US$ 7.000.

Pasar global untuk lobster kurang lebih US$ 1.924 juta atau sekitar 51.000 ton. Sementara, ekspor lobster Indonesia hanya di kisaran  2.000 ton. Terbesar justru dari Vietnam.

Jika menghitung hasil produksi budidaya, KKP menyatakan Indonesia bisa menargetkan ekspor sebanyak 22.000 ton. Asumsi tersebut berdasarkan pada ketersediaan benih.

Saat ini sentra budidaya lobster paling besar berada di daerah Lombok Timur. Ada juga di Jawa Timur bagian selatan. Atau di Aceh, Sukabumi, Lebak Pandeglang dan daerah Sulawesi Utara. Wilayah ini yang saat ini eksisting.

KKP mencatat Vietnam berhasil mencatatkan namanya sebagai pengekspor lobster terbesar di dunia selama 12 tahun terakhir, dengan volume ekspor rata-rata 1.000 ton per tahun.

Kondisi berkebalikan dengan Indonesia, yang justru hanya membukukan volume ekspor rata-rata 10 ton sampai 50 ton, di mana yang tertinggi pada 2009 sebesar 338 ton.

"Bayangkan kalau kita bisa jual 1.000 ton, yang harga ukuran besar itu US$ 30 per ekor, itu sudah Rp 3 triliun. Sekarang pendapatan (ekspor lobster) hanya Rp 200 miliar," kata Susi Pudjiastuti pada satu acara saat masih menjabat Menteri KKP. [tius]

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category