Energy

Laju Komoditas Energi Tertekan Pandemi, Begini Proyeksi Harga Minyak dan Batubara

img title

Petroenergy.id, JAKARTA - Pandemi virus corona memberikan efek negatif bagi pergerakan harga komoditas energi. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI), batubara, dan gas alam kompak loyo dalam tujuh bulan di tahun 2020 ini.

Harga minyak jatuh paling dalam di antara komoditas energi yang lain. Minyak jenis WTI untuk kontrak pengiriman September 2020 anjlok 30,29% sepanjang tahun ini menjadi US$ 40,27 per barel pada Jumat (31/7).

Batubara juga turun cukup dalam sepanjang tahun ini. Harga batubara di ICE untuk pengiriman Agustus 2020 turun 25,88% sejak awal tahun menjadi US$ 52,7 per ton pada akhir pekan lalu.

Demikian halnya dengan harga gas alam yang turun 22,15% tahun ini. Gas alam untuk kontrak pengiriman September 2020 ini berada di US$ 1,799 per MMBtu.

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf menilai, kejatuhan harga minyak tidak terlepas dari turunnya permintaan seiring banyak negara yang melakukan lockdown periode Maret-April.

Keadaan semakin parah ketika terjadi perang harga antara produsen minyak yang sempat membuat harga minyak menyentuh minus US$ 40 per barel dan bertahan di level psikologis US$ 20 per barel akhir semester I-2020.

Beruntung, memasuki paruh kedua tahun ini, harga minyak WTI mulai membaik. Merujuk Bloomberg, harga minyak WTI naik 2,55% dalam sebulan terakhir. "Faktor yang mendorong harga minyak kembali ke US$ 40 per barel adalah kesepakatan pemangkasan produksi serta membaiknya permintaan.

Namun, Alwi melihat, pergerakan harga minyak WTI ke depan akan melandai. Penyebabnya, penyebaran virus korona yang masih meningkat, terutama di Amerika Serikat.

"Jika OPEC+ masih berkomitmen menjaga harga, kemungkinan penurunan bisa dibatasi," kata Alwi. Dia memperkirakan, harga minyak WTI pada akhir tahun berpotensi di US$ 38 per barel.

Pergerakan harga batubara juga dipengaruhi pandemi virus corona. Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim menyebut, dua negara pengimpor batubara terbesar, China dan India, menutup keran impor seiring lockdown.

Ke depan, Ibrahim melihat fundamental batubara belum membaik. Selain pandemi, ketegangan antara China-Australia menjadi sentimen pemberat. Ibrahim melihat, sentimen positif batubara baru datang Oktober kala terjadi musim dingin. Ibrahim memperkirakan harga batubara bisa menuju US$ 60 per ton pada akhir tahun 2020.

Tak jauh beda, Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono bilang, pergerakan harga gas alam juga loyo karena pasokan meningkat. Memasuki semester II tahun ini, harga gas alam rebound, naik 2,86% di Juli 2020.

Kata Wahyu, harga gas alam bisa kembali naik menjelang musim dingin. Prediksinya, harga gas alam akan berada di level US$ 1,50-US$ 2,30 per mmbtu, di mana US$ 2 menjadi gravitational area. [babeh/kontan.co.id]

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category