Energy

Kementerian ESDM Prioritaskan Proyek EBT Padat Karya di Daerah

img title

Petroenergy.id, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui pandemi virus Corona atau Covid-19 sudah pasti memberikan dampak serius terhadap sektor energi termasuk Energi Baru Terbarukan (EBT). Untuk itu beberapa upaya untuk memastikan pengembangan EBT bisa tetap berjalan telah disiapkan.

 

Hariyanto, Direktur Konservasi Energi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), mengungkapkan sejumlah kendala di sektor EBT akibat adanya Covid-19, diantaranya terhambatnya sejumlah proyek dalam kontruksi/pengadaan mengakibatkan overhead cost dan bunga sehingga terjadi lay off (pemberhentian) tenaga kerja, kenaikan biaya konstruksi, pembatasan mobilisasi personil dan logistrik, hingga permintaan listrik yang terus menurun.

 

Untuk memastikan perkembangan EBT tetap berjalan maka pemerintah sudah menerapkan jenis kebijakan yang dengan memberikan sejumlah insentif dan kelonggaran pendanaan pada proyek EBT.

 

Menurut Hariyanto, beberapa stimulus sudah disiapkan, seperti dari sisi pendanaan. Pemerintah telah menangguhkan angsuran pinjaman hingga penurunan suku bunga proyek berbasis EBT. Selain itu, keringanan lain berupa ralaksasi Commercial Operation Date (COD) dan peniadaan denda finansial untuk menyesuaikan mekanisme pengadaan produsen listrik swasta (Independent Power Producer/IPP).

 

“Kami telah melakukan berbagai upaya penanggulangan atas dampak Covid-19 di subsektor EBT,” kata Hariyanto, Kamis (23/4).

 

Ada pemberian subsidi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis Biodiesel. Sebaliknya akan ada biaya tambahan (surcharge) untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar.

 

Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan insentif khusus pajak melalui penangguhan dan penghapusan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) bagi pengembangan aneka EBT.

 

Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan proyek EBT di daerah yang sifatnya padat karya dan desentralisasi dan mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak.

 

“PLTS Atap di kantor instansi Pemerintah atau industri perikanan (cold storage), PLTMH dan PLTS off grid tetap berjalan meskipun pabrikan PLTS ini beberapa telah menurunkan produksi,” kata Hariyanto.

 

Proyek-proyek berbasis Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) juga akan dilakukan restrukturisasi dan refokusing untuk tetap menggerakkan roda perekonomian masyarakat. “Program seperti Penerangan Jalan Umum-Tenaga Surya (PJU-TS) tetap berjalan walaupun dari sisi volume berkurang,” kata Hariyanto. [babeh/duniaenergi]

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category