Other

BKKBN - Denmark Jajaki Kerjasama Pencegahan Stunting

img title

Petroenergy.id, JAKARTA - Saat ini, Indonesia sedang berupaya menangani berbagai masalah di bidang kesehatan, termasuk percepatan pencegahan stunting.

Berdasarkan Global Nutrition Report (2018), prevalensi stunting di Indonesia berada pada urutan ke 108 dari 132 negara, menjadikan Indonesia sebagai prevalensi tertinggi ke-2 (setelah Kamboja) di Kawasan Asia Tenggara.

Hal itu dikemukakan Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Prof. Rizal Damanik, PhD  dalam acara “Ambassador Talks”.

Acara ini mengusung tema “Approaches to Prevent Stunting from Different Perspective”, berlangsung Rabu (21/04/2021), di Hotel Westin, Jakarta Selatan, dan dipancarluaskan melalui daring.

Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia, angka stunting di Indonesia mengalami penurunan dari 37,2% pada 2013 menjadi 30,18% pada 2018. Namun, prevalensinya masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang berada di 20%.

Ada beberapa faktor-faktor yang berkontribusi terhadap stunting seperti  kurangnya asupan gizi; infeksi berulang atau kronis;  sanitasi yang buruk; terbatasnya pelayanan kesehatan.

Selain itu, terdapat faktor sosial, politik, budaya, dan ekonomi lain yang juga berpengaruh terhadap angka stunting di Indonesia.

Menurut Rizal Damanik, penanganan stunting di Indonesia menjadi salah satu prioritas nasional yang tertuang dalam Agenda Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020 - 2024. "Ditekankan pada kebijakan konvergen untuk meningkatkan akses dan kualitas intervensi gizi yang spesifik dan sensitif," ujarnya.

Kebijakan konvergen ini, lanjut Damanik, merupakan pendekatan lintas sektor yang melibatkan 24 sektor pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta dan lain-lain.

Adapun fokus wilayah penanganan  dilakukan secara meluas dan bertahap hingga menjangkau seluruh kabupaten/kota pada 2024.

Amanat Presiden

Pada Januari 2021 BKKBN diamanatkan oleh Presiden  Joko Widodo untuk memimpin pelaksanaan program percepatan penurunan stunting. Targetnya, angka stunting turun dari 27,6% menjadi 14% pada 2024.

Untuk mencapai target tersebut, Indonesia harus menurunkan angka stunting sebesar 2,7% setiap tahun.

Berbagai intervensi langsung dan tidak langsung dilakukan untuk menurunkan angka tersebut. Adapun, intervensi langsung meliputi pemberian makanan pendamping untuk ibu hamil dan orang miskin; suplemen zat besi untuk ibu hamil; promosi dan konseling menyusui; manajemen malnutrisi; mengembangkan pemantauan dan promosi.

Sementara intervensi tidak langsung berupa  meningkatkan penyediaan air minum dan sanitasi; meningkatkan akses dan kualitas gizi dan pelayanan kesehatan; meningkatkan kesadaran, komitmen, dan praktik pengasuhan serta gizi ibu dan anak; dan meningkatkan akses ke makanan bergizi.

Damanik menegaskan, diperlukan dukungan dan kerjasama berbagai sektor dan multi pihak untuk mencapai target tersebut. "Indonesia siap bekerja sama dalam mengatasi masalah-masalah tersebut dengan semua mitra untuk mengurangi angka stunting di Indonesia," terang Damanik.

Salah satunya adalah menjajaki peluang kerjasama dengan Denmark. Kerjasama ini di antaranya diarahkan untuk memperkuat kolaborasi antara BKKBN dan Denmark terkait program percepatan pencegahan stunting dan Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana).

Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN,  Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc, Dip.Com, menambahkan bahwa BKKBN juga telah membangun kolaborasi dengan mitra partai politik dengan melibatkan Komisi IX DPR-RI.

"Pada tingkat provinsi, setiap kegiatan kemitraan swasta (terkait program stunting dan Bangga Kencana) melibatkan Komisi IX DPR sesuai daerah pemilihannya. Dan diupayakan agar setiap anggota Komisi IX mendapat satu kegiatan tersendiri dengan mitra atau pihak swasta," tambah Dwi.

Sosialisasi Ibu Hamil

Sementara itu, Dewi Savitri Wahab, the Ambassador Extraordinary and Plenipotentiary of Indonesia yang berbicara pada acara ini menilai pentingnya jajaran di tingkat puskesmas untuk melakukan sosialisasi  kepada ibu hamil terkait diabetes. Termasuk diabetes pada bayi dan balita yang dapat juga menyebabkan stunting.

"Pola kerjasama ini bisa dipakai untuk mengurangi stunting dan agar masyarakat juga bisa paham apa itu stunting”, tambah Dewi.

Pada kesempatan yang sama Soren Bindesboll, the Deputy Ambassador Royal Danish untuk Indonesia, menyarankan untuk melakukan sosialisasi terkait makanan bergizi dengan pola 4 sehat 5 sempurna.

"Denmark," katanya, "telah melakukan program-program yang dimulai dari merawat bayi dengan berfokus pada ibu."

Otoritas Kesehatan Denmark bekerjasama dengan Danish Veterinary and Food Administration, demikian Soren, telah mengembangkan pedoman tertulis -- yang ditujukan bagi wanita -- untuk fokus pada kesejahteraan wanita sebelum, selama dan setelah melahirkan. (san)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category