Other

Bencana Lingkungan Ancaman Nyata, Apa Kontribusi Perusahaan bagi Lingkungan?

img title

Petroenergy.id, JAKARTA - Bencana lingkungan telah menjadi ancaman nyata dan riil bagi keberlangsungan manusia, khususnya di kawasan yang tengah berkembang dengan cepat seperti Asia Tenggara. Menurut penelitian terbaru, polusi udara telah menyumbang hingga sekitar 153.600 kematian dini, kerugian ekonomi sebesar US$82,4 miliar hanya dalam paruh pertama tahun 2021 di 11 kota besar Asia.

Dengan meningkatnya eksternalitas lingkungan yang menjadi tantangan bagi kelangsungan pertumbuhan sosial-ekonomi, pemerintah di dunia mengumumkan kebijakan dan komitmen baru demi keberlanjutan.

Namun, karena perjuangan untuk melestarikan dunia dan kesehatan merupakan sebuah upaya bersama, sangat penting bagi semua pihak, termasuk perusahaan dengan berbagai ukuran, untuk mengupayakan kolaborasi dengan lembaga lintas-sektoral, serta berinovasi demi mencapai hasil lingkungan yang jelas dan positif.

Pemerintah di seluruh Asia Tenggara selama ini telah berupaya untuk menyeimbangkan keberlanjutan dengan pertumbuhan ekonomi. Tetapi sejumlah kebijakan yang ada hanya dapat efektif jika didukung dan ditopang oleh bisnis. Sebagai penggerak utama perekonomian, mereka akan memimpin adopsi dan kepatuhan di dalam masyarakat.

Di sinilah organisasi sektor swasta dapat meningkatkan upayanya untuk membuat perbedaan. Pada tingkat global, sejumlah perusahaan besar telah memimpin jalannya penanganan perubahan iklim melalui sejumlah inisiatif dan program, dan sesama perusahaan di Asia Tenggara juga dapat melakukan hal yang sama.

Pengurangan emisi karbon dan pemusnahan plastik sekali pakai merupakan langkah pertama; di mana perusahaan dapat benar-benar menghasilkan perbedaan dengan cara memimpin pelaksanaan proyek hijau berskala besar. Salah satunya yang dilakukan Hitachi dengan Super Low Energy Building Smart Hub di Singapura.

UKM

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga tidak boleh dilupakan. Mereka merupakan 97 sampai 99 persen perusahaan di Asia Tenggara sehingga mereka dapat menghasilkan dampak lingkungan yang positif dan signifikan.

Bekerja sama dengan pemangku kepentingan ekosistem lainnya, UKM dapat menerima pendidikan, dukungan dan pembiayaan yang mereka butuhkan untuk memahami manfaat ekonomi dan lingkungan dari ‘menjadi hijau’, serta memandu mereka dalam melaksanakan bisnisnya.

Kebanyakan perusahaan umumnya meyakini bahwa go green itu terlalu mahal, khususnya dalam jangka panjang, dan bahwa kontribusi mereka tidak menghasilkan banyak dampak. Namun, setiap tindakan partisipasi dapat membangun landasan untuk memupuk perubahan pada tingkat yang lebih holistik.

Dengan semakin banyak perusahaan yang turun tangan, khususnya mengingat bahwa pendekatan yang lebih hijau dapat bermanfaat bagi ekonomi dalam jangka panjang, upaya gabungan yang ada akan membantu memupuk upaya kolektif menuju peningkatan keberlanjutan lingkungan di Asia Tenggara dan seterusnya.

Dengan menyadari beragam tantangan yang unik bagi setiap negara atau pasar dan menyeimbangkannya dengan meningkatkan kualitas hidup warga, perusahaan dapat bekerja sama dengan lebih baik dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk memfokuskan upaya mereka secara langsung pada pengurangan dampak lingkungan.

Untuk mendukung pertumbuhan sosial-ekonomi yang lebih besar, seperti dikutip dari Hitachi.com, negara-negara ASEAN tengah mempercepat laju digitalisasi, yang kemudian mempercepat permintaan akan energi. Namun, banyak negara masih bergantung pada sumber energi tidak terbarukan, yang juga menghasilkan lebih banyak polusi.

Maka, perusahaan perlu menyeimbangkan inovasi ekonomi dengan pendekatan yang lebih bersih, seperti menemukan solusi untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan energi terbarukan. Mereka dapat memimpin dengan ikut serta dalam proyek percontohan dan menyediakan bukti konsep guna menunjukkan kepada pemerintah dan organisasi lain bagaimana inovasi dapat menciptakan perubahan lingkungan.

Terpadat di Dunia

Asia Tenggara merupakan rumah bagi sejumlah kota dengan penduduk terpadat di dunia, yang hanya akan terus semakin padat seiring pertumbuhan ekonomi, yang mengarah pada tantangan keberlanjutan perkotaan masa depan. Perusahaan dapat mendukung pertumbuhan kota dan mengurangi dampak lingkungan yang buruk dengan membangun solusi yang dapat memupuk terciptanya Kota Pintar.

Akses ke air bersih merupakan persoalan turun-temurun lain dari negara-negara Asia Tenggara, yang semakin diperparah dengan meningkatnya industrialisasi dan lonjakan pertumbuhan populasi.

Melalui inovasi, perusahaan dapat menciptakan cara-cara baru untuk memastikan agar semua orang mudah mengakses air bersih, seperti apa yang dilakukan Hitachi dengan meningkatkan infrastruktur pasokan air di kota-kota seperti Filipina dan Vietnam, serta memperluas kapasitas pengolahan harian dari fasilitas pengolahan air limbah yang ada.

Tren besar di tingkat global seperti maraknya transformasi digital dan pertumbuhan populasi tanpa henti akan mendorong pertumbuhan ekonomi di pasar baru seperti Asia Tenggara. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak boleh dibiarkan begitu saja, mengingat tren peningkatan bencana lingkungan tidak hanya mempengaruhi kematian, tetapi juga berdampak bagi kesehatan dan bisnis dalam jangka panjang.

Untuk memastikan agar generasi mendatang juga dapat menikmati manfaat dari pertumbuhan ekonomi ini, pendekatan yang berkelanjutan dari segi lingkungan harus diadopsi oleh semua orang — termasuk perusahaan. [PR/sancoyo]

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category