Other

149 Juta Anak di Dunia di bawah 5 Tahun Alami Stunting, Setengahnya Anak-Anak Asia

img title

Petroenergy.id, JAKARTA - Sebanyak 149 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting. Anak-anak ini, lebih dari setengah tinggal di Asia. Sementara hampir 40% tinggal di Afrika. WHO menyebut stunting sebagai salah satu hal yang berarti dan menghambat perkembangan manusia.

Data itu dikemukakan Prof. Rizal Damanik, Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN, pada acara Webinar Action Against Stunting Awareness Day.

Webinar ini mengambil  topik "The Progress on Implementation of Stunting Policy and Program (Stunting Condition in Indonesia, Stunting Related Policy and Program, Gap on implementation", diselenggarakan secara virtual oleh Seameo Recfon, Rabu  (08/09/2021).

Hari Aksi Anti Stunting ke-1 ini menjadi ajang mempertemukan para pembuat kebijakan, donor, dan akademisi untuk mempromosikan penelitian dan intervensi untuk memastikan bahwa setiap anak dapat mencapai potensi penuh terhadap pertumbuhannya.

Forum ini sekaligus menjadi kesempatan bagi tiga negara untuk menyampaikan tantangan yang dihadapi agar UK dapat menjaga komitmen dukungan kepada negara berkembang.

Prof. Rizal menyampaikan, bahwa pengurangan stunting merupakan prioritas nasional pemerintah Indonesia, yang dipimpin langsung oleh Wakil Presiden sebagai Ketua Pengarah dan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai Ketua Pelaksana.

"Kami berkoordinasi erat dengan Bappenas, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Sekretariat Wakil Presiden,” kata Prof. Rizal.

Indonesia telah menetapkan target untuk mempercepat penurunan stunting menjadi 14% pada tahun 2024. Gugus tugas pengurangan stunting dibentuk dari tingkat pusat hingga desa.

Tim ini berperan untuk mengkoordinir, mensinergikan, dan mengevaluasi pelaksanaan percepatan penurunan stunting di wilayahnya.

"Strategi nasional percepatan pengurangan stunting menjadi kerangka utama bagi seluruh elemen negara,” imbuh Prof. Rizal mewakili Kepala BKKBN.

“Kami juga menerapkan lima pilar yang terdiri dari  penguatan komitmen dan visi pemimpin di kementerian/lembaga di tingkat pusat, provinsi, kabupaten, dan desa; meningkatkan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat; memperkuat konvergensi Intervensi Nutrisi Spesifik dan Gizi Sensitif."

Selain itu, meningkatkan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga, dan masyarakat; dan penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, penelitian, dan inovasi.

Kolaborasi

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera BKKBN, dr. Irma Ardiana menyampaikan BKKBN telah berkolaborasi dan mengimplementasikan ke lintas sektoral program-program yang berfokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Disamping itu, percepatan penurunan stunting juga melibatkan universitas untuk membantu tingkat sub nasional dalam literasi dan analisis data.

"Mencegah terjadinya peningkatan prevalensi stunting harus dilakukan pada siklus daur hidup di tahap remaja,” ujar Irma.

Untuk itu, menurutnya, penurunan stunting juga harus melibatkan stakeholder lainnya. "Mulai dari dunia usaha, universitas dan organisasi profesi, organisasi masyarakat madani, mitra pembangunan, dan media," tambah Irma.

Irma juga menandaskan bahwa lembaganya menilai  adanya potensi pelibatan perguruan tinggi untuk mendukung penurunan stunting di Kabupaten/kota melalui konvergensi  di 1000 HPK. [san]

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category