Energy

TKDN Transmisi Listrik Perlu Digenjot

img title

Jakarta, petroenergy.id - Pemerintah diminta menggenjot tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) ditransmisi proyek 35 ribu MW tahun 2017. Cara ini dianggap ampuh untuk mendorong gairah industri peralatan listrik nasional yang sedang loyo.

Permintaan itu diajukan pengusaha listrik yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Listrik Seluruh Indonesia (APLSI).  “Ini salah satu langka awal mendorong gairah di industri peralatan dan konstruksi listrik nasional,” ujar Sekretaris Jenderal APLSI, Priamanaya Djan, hari ini di Jakarta.

Menurut Priamanaya, mendorong TKDN di transmisi saat ini memang cukup realistis sebab teknologi konstruksi baja sudah cukup dikuasai di dalam negeri. “Kelemahan kita masih disoal turbin dan sedikit diboiler. Jadi, pembangkitnya dari luar tapi kita kejar TKDN di transmisi atau di sutet itu dalam negeri saja,” ujarnya. 

Data APLSI menunjukkan, saat ini TKDN di transmisi mencapai lebih dari 60 persen. Namun, TKDN ini perlu digenjot lagi secara maksimal sekaligus mendorong industri baja nasional.

Priamanaya mengatakan, dalam proyek 35 ribu MW dibutuhkan transmisi sepanjang 46.000 kilometer atau selingkaran planet bumi. Sejak diluncurkan tahun 2015, pembangunan transmisi menyerap anggaran sebesar Rp 200 triliun untuk lima tahun. ”Itu termasuk gardu induk, tower, dan konstruksinya,” ujarnya.

Dia mengatakan, tahun depan pemerintah perlu mengoptimalkan captive market peralatan listrik yang sudah tersedia di 35 ribu MW.  Investasi di proyek 35 ribu MW sebesar lebih dari Rp 1.100 triliun. Artinya, tersedia pasar yang sangat besar.

Dia khawatir pasar nasional yang besar ini hanya diisi dan dimanfaatkan oleh produsen peralatan listrik dari luar negeri. Pasalnya, impor pelatan listrik terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan dibandingkan impor non migas lainnya, impor peralatan listrik salah satu yang tertinggi pada Juni 2016 bersama impor mesin yakni sebesar  US$ 289,1 juta (18,06 persen).

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa nilai impor Indonesia Juni 2016 mencapai US$ 12,02 miliar  atau naik 7,86 persen apabila dibandingkan Mei 2016. Namun sebaliknya turun sebesar 7,41 persen jika dibandingkan Juni 2015. (san)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category