CSR

Tambang Emas Martabe, CSR : Perspektif Lingkungan dan Memanusiakan Manusia

img title


By: Mulkani

Aktivitas penambangan selalu diasumsikan negative sebagai perusak lingkungan, berlaku tidak etis dengan membuang limbah tailing mengandung racun kimiah merkuri dan sianida yang merusak keberadaan habitat.

Terutama, bagi tambang-tambang yang menjalankan operasi denagan metode tambang terbuka. Sebab, aktivitas tambang terbuka, menurut awam adalah aktivitas yang tak lepas dari kegiatan membuka hutan secara terus-menerus dan mengambil material (ore)-nya dalam volume besar hingga tak terbatas.

Tambang Emas Martabe Batangtoru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, misalnya, dalam menjalankan operasi tambang terbuka dengan cara merambah hutan, selalau saja diasumsikan sebagai tambang memiliki daya rusak lingkungan yang dahsyat.

Namun, kondisi yang sesunguhnya adalah Tambang Emes Martabe sangat peka terhadap lingkungan. Artinya, asumsi awam itu agaknya masih perlu diluruskan. Maka, melalui narasi ini penulis mencoba untuk merubah sudut pandang negative ke sudut pandang positif ikhwal memaknai aktivitas Tamabag Emas Martabe Batangtoru.

Sebelumnya, penulis sempat mengunjungi lokasi TambangEmas Martabe ini.  Pada kesempatan itu penulis menyaksikan langsung aktivitas penambangan, melalui dari kegiatan eksplorasi dan penemuan deposit mineral sampai pada pengolahan mineral bernilai ekonomis.

Penulis juga menggali informasi terutama yang berkaitan dengan aspek pelestarian lingkungan yang dijalankan melalui konsep pelaksanaan reklamasi pasca tambang serta mencoba melihat dari dekat kegiatan pengembangan masyarakat di sekitar operasi tambang yang dikemas dalam program CSR  oleh pengelola Tambang Emas Martabe, PT Agincourt Resources.

Untuk melengkapi data dan literatur, penulis juga sempat bertatap muka dengan beberapa orang yang berkompeten, diantaranya Pramana Triwahjudi, Senior Manager Community PT Agincourt Resources; Bayu Ariyanto, Superintendent Environmental Agincourt;dan Fitri Rahmadani, Field Assistant Rehabilitation Departemen Lingkungan Agincourt Resources.

Sebagai pengelola Tambang Emas Martabe, PT Agincourt Resources, berkomitmen untuk meciptakan keseimbangan lingkungan, kesimbangan lingkungan dan manusia. Untuk itu, ada dua kewajiban yang mutlak untuk dilaksanakan, yaitu pertama komitmen kuat melksanakan reklamasi pasca tambang dan kedua menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang bekesinambungan.

Diperoleh informasi bahwa sejak PT Agincourt Resources menapakan kaki di Tambang Emas Martabe Batangtoru, Tapanuli Selatan, 6 tahun lalu, komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan pengembangan masayarakat di sekitar operasi tambang, ini telah terpatri dalam program dirancang secara formal maupun informal.

Contoh, ini dapat dilihat dalam konteks Agincourt dalam menjalakan reklamsi yang telah disepaati sesuai dengan kesepakatan yang ditandatangani antara pengelola dan pemerintah yang, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kedua, dilihat dalam konteks Agincourt dalam memberdayakan masyarakat setemapat melalui program CSR, menurut UU Perseroan Terbatas Pasal 74 ayat (1) UU PT. 

Untuk memudah pemahaman agar tidak lari dari dua konteks diatas, penulis akan membatasi bahasan ini terbatas pada program informalnya saja, pertama lebih menyoroti aspek implementasi dari dua kewajiban formal tersebut diatas. Misalnya, melihat bagaimana Agincourt mengimplemtasikan atau merefleksikan reklamasi dalam konsep pelestarian lingkungan yang penuh rasa tanggung jawab dan kedua melihat dari dekat seperti apa pula Agincourt menjalankan program CSR dengan konsep pengemabangan berkelanjutakan penuh inovatif, sehingga program ini berjalan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Reklamasi Tambang

Reklamasi tamabang adalah wajib hukumnya. Oleh karena itu,  konsesi tambang yang diakuisi Grup Astra setahun lalu itu, secara giografis memiliki luas 1.303km pesegi, terdiri dari bukit yang memiliki tingkat kemiringan yang berbeda dari terbuka hingga mencapai kemiringan 45%, secara konsisten menjalankan komitmen reklamasi secara periodik.

Seperti diketahui bahwa  kegiatan reklamasi Tambang Emas Martabe yang dilakukan pada periode  2011 sesuai rencana reklamasi lima tahun pertama, yakni tahun 2011-2017 seluas 11,9 hektare (ha). Kemudian, dilanjutkan kegiatan reklamasi tahap jaminan reklamasi kedua, yakin 2017-2021 yang telah disetujui oleh Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, seluas 6,11 ha.

Reklamasi tambang pun disesuaikan dengan kondisi permukaan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, program reklamasi yang dilaksakan PT Agincourt Resources, selaku pengelola Tambang, dengan menanam pohon untuk lokasi paska tambangan terbuka, sementara untuk lokasi dengan kemiringan 45 derajat dilakukan dengan menggunakan medtode tersendiri.

Sedikitnya, 5.000 an bibit pohon untuk program reklamasi atau pemulihan kembali lahan dan vegetasi yang terkena dampak kegiatan pertambangan telah ditanam. Kini pohon-pohon yang ditanam kondisinya telah menghijau menyatu dengan habitat di sana.

Bibit-bibit itu berasal dari 42 spesies tanaman yang 32 di antaranya merupakan spesies tanaman lokal dan 10 spesies lainnya merupakan tanaman yang mampu tumbuh cepat (fast growing) seperti sengon, waru, trembesi dan meranti merah. Penyiapan bibit reklamasi tersebut dilakukan di fasilitas pembibitan tanaman seluas 3.000 meter persegi yang ada di kompleks tambang Martabe.

Selain itu, bibit pohon juga diperoleh melalui kerja sama dengan pembibitan masyarakat lokal Batangtoru, perusahaan pemasok, pemerintah dan mencari di hutan-hutan yang ada di wilayah Tapanuli Selatan. Beberapa contoh bibit lokal yang ada di hutan sekitar Tapanuli Selatan adalah simarbaliding, hapinis, tambiski dan kayu kemenyan.

Tidak tanggung-tanggung, memang, untuk menyiapkan bibit, ini dimulai dari penanaman biji, perawatan bibit pohon hingga siap untuk ditanam. Semua itu dilakukan sebagai komitmen pengelola tambang dalam kegiatan penanaman kembali lahan bekas tambang merupakan bagian dari pengelolaan lingkungan berkelanjutan di Tambang Emas Martabe Batangtoru, Tapanuli Selatan.

Seperti telah disngggung, reklamasi dilakukan dengan cara stabilisasi lahan pada area terbuka dan lahan miring menggunakan zona pengakaran sehingga perlu dilapisi dengan top soil, sebagai media untuk pengakaran.

Dari keterngan yang diperoleh, tahap selanjutnya,  adalah menutupnya dengan tanaman kacang-kacangan yang disebut cover crop dan dibuatkan drainase untuk mencegah erosi dan perbaikan kualitas tanah sebagai salah satu kriteria keberhasilan reklamasi.

Di tahun 2019, progress stabilitas lahan bergeser pada kemiringan 26 – 45 derajat. Untuk kegiatan reklamsi ini tidak menanam pohon, akan tetapi menamam kacang-kacangan melalui metode cover crop di lahan yang kemiringan diatas 25 derajat.

Setelah tanaman kacang-kacangan tumbuh, tahap berikutnyaadalah menanam pohon yang cepat tumbuh seperti sengon dan waru. Setelah sengon dan waru berusia  2-3 tahun baru disisipkan tanaman lokal seperti seperti simarbaliding, hapinis dan tambiski.

Corporate Social Responsibility

Telah disinggung bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) wajib berdasarkan UU. Namun, dalam implemnatasinya, korporasi memiliki cara sendiri sesuai dengan daya kreatifitas dan inovasi yang dilakukannya pihak pengelola dalam menjalakan program CSR dengan pengembangan berkelanjutan (Sustinable Development).

Sejak beroperasi tahun 2013 hingga kini, Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources di Batangtoru, Tapanuli Selatan, telah turut serta menggerakkan perekonomian masyarakat Batangtoru, Tapanuli  Selatan.

Seperti apak konsep dasar program CSR yang diterpakan Taambangan Emas martabe. Menurut penulis, konsepnya tak jauh berbeda dari dasar-dasar  CSR dipopulerakan oleh John Elkington melalui konsep “3P” yaitu Profit, People dan Planet yang dikenal dengan: The Triple Bottom Line.

Program CSR Agincourt pun mengacu pada pengembangan berkelanjutan dengan pilar ekonomi, sosial dan lingkungan. Kegiatan terfokus pada 15 desa terdapak. Di 15 desa ini diprioritaskan pengemabngan ekonomi, pertanian dan pendidikan.

Tambang Emas Martabeberkomitmen menyejahterakan masyarakat desa lingkar tambang yang terdiri dari 15 desa selama perusahaan tambang beroperasi menjadikan masyarakat mandiri melalui  mengembangkan ekonomi lokal.

Pengembangan ekonomi lokal, disesuaikan  dengan jenis mata pencaharian masyarakat sehari-hari di sana. Berdasarkan data, dari 15 desa terdampak, di Kecamatan Batangtoru dan desa di Kecamatan Muara Batangtoru yang berpopulasi sekitar 23 ribu penduduk, memiliki matapencaharian, 77 persen di antaranya adalah petani dan 13 persen pedagang, dan 10 persen bergerak di sektor jasa.

Di bidang pertanian, Tambang Emas Martabe memfasilitasi program penangkaran padi seluas 7 ha, pengembangan beras organik seluas 4 ha, budidaya jagung pipil seluas 28 ha, dan ditambah sistem budidaya beras konvensional.

Beras organik dihasilkan sawah seluas 7ha yang arealnya beririsan langsung dengan operasi Tambang Emas Martabe. Penulis melihat langsung lokasi sawah ini berada tepat di batas wilayah kerja tambang namun padinya tumbuh dengan subur.

Penulis ingin mengutip penjelasan Pramana Triwahjudi.Dulu, katanya, ketika pengembangan sawah-sawah ini belum perhatian pengelola tambang, pendusuduk setemapat menuding bahwa operasi tambang merusak sawah petani karena menebar racun dari bahan kimiah seperti merkuri dan sianidayang dibuang ke sungai dalam bentuk limbah tailing.

Tudingan itu cukup memukul keberadaan tambang. Oleh karena itu, berkaitan dengan tailing beracurn, PT Agincourt Resources, sebagai pengelola Tambang Emas Martabe, tidak main-main.Upayanya untuk membuktikan bahwa aktivitas tambang tidak membuang limbah beracun, konsisten mejalankan uji laboratorium Sucofindo.

Dari data yang diperoleh penulis, uji laboratorium melaui sampel air,mencakup: tingkat keasamanair (pH), Total Suspended Solids (TSS), kadmium (Cd), kromium (Cr), merkuri (Hg), nikel (Ni), sianida (CN), arsen (As), tembaga (Cu), timbal (Pb), dan seng (Zn).

Menurut keterangan yang diperoleh penulis di lokasi bahwa pengambilan sampel air dimulai pada titik ujung masuk pipa air sisa proses (inlet) dan ujung keluar pipa air sisa proses (outlet), Sungai Batangtoru pada 500 meter sebelum titik pelepasan air, titik percampuran air sisa proses dan air Sungai Batangtoru (outfall), serta 500 meter, 1.000 meter, 2.000 meter, dan 3.000 meter setelah pelepasan air.

Hasil uji laboratorium tersebut memiliki tigkat kepercayaan publik cukup tinggi, karena menurut penulis selain hasilnya dipublikasikan secara luas melalui media massa, pengumuman hasih uji coba laboratorium ini juga disaksikan oleh Muspeda setemapat. Dan, bukti yang lebih konkrit lagi adalah keberadaan sawah petani dengan yang meggunakan air Batangtoru dengan padinya yang tumbuh subur.

Dan, bahkan petani Batangtoru sekarang menjadi program unggulan di sana. Misalnya program pertanian beras organik, terbukti hasil panen bisa dua kali lipat dibanding budidaya beras yang mereka gunakan sebelumnya. Begitu juag program pengembangan petani jagung untuk makan ternak yang dibawah koordinsai koperasi binaan Agincourt Resources, juga memberikan hasil yang berlipat ganda dari sebelumnya.

Efek positif dari semua itu adalah mendorong aktivitas tambang berjalan dengan tenang tidak ada gangguan sosial yang berarti, kegiatan eksplorasi berjalan mulus sehingga secara keseluruhan kinerja Agincourt Resources mampu mempersebahkan laba bersih sebesar US$ 166,79 juta tahun 2018.

Dari uraian tersebut diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa momentum 7 tahun beroperasinya Tambang Emas Martabe sebagi korporasi yang memnciptakan profit serta telah menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan dalam perspektif lingkungan dan memanusiakan manusia. Penjabarannya adalah pertama Agincourt telah berhasil melaksanakan reklamasi pasca tambang dengan mengembalikan alam ke habitatnya. Kedua Agincourt berhasil memberdayakan masyarakat di 15 desa terdampak tambang melalui pembinaan dan pengembangan ekonomi lokal sehingga kini telah menjadi mandiri secara ekonomi.

Point penulis adalah tidak semua perusahaan tambang yang beroperasi di Indonesia dapat diasumsikan sebagai perusak lingkungan, contohnya pengelola Tambang Emas Martabe Batangtoru, PT Aagincourt Resources, selama 7 tahun sejak beroperasi tahun 2013, menjelma sebagai korporasi yang tumbuh dan giat membangun bersama.

 

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category