Maritime

Tahun 2017 Humpuss Tambah Kapal FSRU dan Petrochemical

img title

Jakarta, petroenergy.id --Theo Lekatompesy, Direktur Utama Humpuss Intermoda menyatakan bahwa PT Humpuss Intermoda Tranportasi Tbk menargetkan menambah 2 kapal FSRU (Floating Storage Regasification Unit) ditahun 2017 untuk untuk angkutan di proyek FSRU Java I dan FSU Benoa dengan nilai investasi masing-masing diperkirakan USD 18 juta dan USD 30 juta.

Sebetulnya proyek FSRU Java I sudah dimenangkan oleh konsorsium Pertamina dimana perseroan termasuk di dalamnya. Hanya saja legalnya belum ditandatangani sehingga Theo belum mau bicara banyak terkait itu.

"Memang ada satu poin atas dari USD 240 juta FSRU kami invesst 18 juta karena itu dari ekuiti. Saya belum bisa mengumumkan jadi turut pemenang di situ karena belum dilakukan penandatanganan kontrak. Kalau sudah diteken, kontraknya akan berlangsung 25 tahun," katanya di Jakarta, Rabu (21/12), seperti mengutip dari kontan.co.id.

Selain itu, dua unit kapal rencananya akan ditambah di sektor angkutan Petrochemical dengan invetasi sekitar USD 22 juta. Lalu satu unit akan ditambah angkutan offshore Support dengan anggaran USD 13 juta, satu unit Kapal pengerukan USD 17 juta dan satu kapal Marine Support senilai USD 5 juta.

Theo belum mau mengungkapkan kontrak apa saja yang tengah diincar perusahaan dengan rencana tambahan kapal tersebut. "Penambahan armada ini akan tergantung pada realisasi tender-tender berjalan dengan baik," kata Theo.

Menurut Theo, peluang kontrak yang paling besar didapat perseroan ada di sektor chemical oil, LNG dan harbour Tug dan pengerukan. Jika delapan kapal tersebut bisa direalisasikan, HITS memperkirakan kinerja mereka tahun depan akan tumbuh. Pendapatan ditargetkan meningkat 59% dan laba komprehensif bisa tumbuh 10%.

Theo menjelaskan, peta proyek angkutan LNG sudah mengalami pergeseran tren. Dulu masih diekspor dari Bontang ke Thailand, Jepang dan Cina, sekarang kemungkinan akan impor. Lalu, angkutan LNG saat ini tidak hanya melewati satu pelabuhan saja tetapi sudah multihub.

Padahal dulu angkutan dilakukan dengan point to point. "Kemudian kapal yang sekarang tidak lagi sebesar dulu agar fleksibel karena multihub tadi," katanya.

Dari peta tersebut, Humpuss melihat suplai datangnya dari Timur Tengah, Australia dan Papua Nugini. Saat ini, perusahaan pelayaran ini belum masuk ke sana. Theo bilang, jika biayanya memungkinkan pihaknya akan menyasar ketiga negara tersebut.

Humpus melihat prospek angkutan impor LNG ke depan akan cerah. Sama seperti kondisi antara permintaan dan pasokan migas dalam negeri, maka kebutuhan akan gas juga diperkirakan akan mengarah ke sana.Sementara pasar dalam negeri, Humpuss membagi dalam dua bagian yakni Indonesia Timur dan Barat. Wilayah Timur dibagi menjadi bagian selatan, tengah dan utara.

Di bagian selatan, kapal Humpus sudah beroperasi dari Bontang ke Bali untuk proyek mini LNG. Mereka menyuplai LNG ke PLN dan Indonesia Power melalui perusahaan Pelindo III. " Dari Bali nanti akan dikembangkan dua point lagi, yang paling dekat lombok dan Timor sekitar 50 x2 Megawatt. Ini kapalnya akan sama tapi dua kali stop," kata Theo.

Sementara wilayah timur bagian utara bisa dikembangkan dari Bontang ke Gorontalo, Manado, dan Ternate dan bagian tengah, Bontang bisa diarahkan ke Makassar, Ambon dan Pomala. Melalui peta tersebut, Theo melihat wilayah Timur Indonesia memerlukan tiga kapal lagi ditambah dengan satu kapal cadangan.

Sementara di bagian barat, ada beberapa tujuan yang sedang mereka antisipasi yakni pangkalan Boon, Pontianak, Belitung dan Nias. "Proyek sudah kelihatan tapi kapan terjadinya itu di luar kontrol kami. Itu akan tergantung kondisi makro nasional," kata Theo.

Sementara sepanjang tahun 2016 ini, hanya berhasil menambah tiga kapal dengan total invetasi US$ 36 juta. Padahal sebelumnya, perusahaan ini berencana menambah 15 kapal dengan investasi US$ 154 juta, namun tidak terealisasi seluruhnya karena banyak tender yang mereka incar mundur.

Kapal pertama adalah LNG Triputra yang akan mensupport PT Pelindo Energy Logistik untuk pengiriman LNG dari Bontang ke Benoa. Kapal ini beroperasi sejak April 2016 dengan masa kontrak 7 tahun. Nilai investasinya mencapai USD 20 juta.

Lalu kapal kedua Griya Melayu senilai USD 3,5 juta yang dioperasikan untuk mendukung angkutan methanol dari Bontang ke seluruh wilayah Indonesia. Masa kontrak proyek ini mencapai lima tahun. Sedangkan kapal ketiga adalah Griya cirebon senilai USD 12,5 juta yang dipakai untuk mengangkut minyak mentah dari refinery Pertamina ke KKKS Migas dengan kontrak satu tahun. (adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category