Energy

Sumatera Selatan Lumbung Energi, Tapi Rasio Elektrifikasi Masih Rendah

img title

Palembang, petroenergy.id  - Kepala Bidang Listrik dan Pemanfaatan Energi Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumatera Selatan Marwan Sirait mengatakan, Provinsi Sumatera Selatan telah siap menjadi lumbung energi serta ikut berkontribusi pada percepatan proyek 35.000 MW.

Hal tersebut disampaikan dikemukakanya pada Focus Group Discussion (FGD) Akselerasi Solusi Implementasi Konservasi dan Diversifikasi Energi di Provinsi Sumatera Selatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Palembang, Kamis (11/9).

“Sumsel siap untuk berkontribusi sebesar 10.000 MW dari 35.000 MW yang menjadi proyek kelistrikan pemerintah,” kata  Marwan Sirait.

Menurutnya, saat ini, pembangkit listrik terpasang di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 2.000 MW, di mana pada saat  beban puncak ‘hanya’ mencapai 670 MW. “Ada 1.300 MW lebih yang dikirimkan ke provinsi tetangga,” kata  Marwan. Sambil menambahkan, rasio elektrifikasi Sumsel sendiri hingga triwulan I 2016 baru mencapai 80,99%.

Untuk meningkatkan  rasio elektrifikasi, Provinsi Sumatera Selatan, kata diasekarang telah dibangun  pembangkit listrik dengan sumber energi terbarukan, yakni dengan mikro hidro di 15 desa dan tenaga surya di 187 desa.  “Sumsel juga memiliki potensi panas bumi yang cukup besar yang tersebar di Kabupaten OKU Selatan, Muara Enim, dan Lahat,” kata marwan


Sementara, di tempat yang sama Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Ronggo Kuncahyo mengungkapkan, FGD ini diselenggarakan untuk mengetahui permasalahan dan memberi solusi, terkait energi, yang ada di Sumsel, tentunya dengan terfokus kepada Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE).  Karena dirasa EBTKE saat ini jalannya masih kurang cepat.

Pada bagian lain, Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Direktorat Jenderal EBTKE Maritje Hutapea, yang juga hadir sebagai pembicara pada FGD ini, menyatakan, untuk mencapai kedaulatan energi, Kementerian ESDM, katanya,  telah memiliki sembilan program strategis, di mana dua program terkait dengan EBTKE, yakni perbaikan bauran energi dan pembudayaan konservasi energi.

“Konservasi energi sangat penting untuk dilakukan. Dalam praktiknya, menghemat 1 kWh jauh lebih hemat daripada membangun pembangkit dengan daya 1 kWh. Begitu pula dengan diversifikasi energi, Indonesia memiliki banyak potensi EBT yang wajib kita kembangkan untuk mencapai 23% EBT dalam bauran energi nasional di tahun 2025,” kata  Maritje.

Senada dengan Maritje, General Manager PT PLN Pembangkitan Sumbagsel, Ahsin Sidqi, mengatakan,  pembangunan pembangkit listrik di Sumbagsel saat ini juga telah bersumber dari EBT. “PLN sangat membutuhkan energi terbarukan untuk mendukung sistem kelistrikan di Sumatera. Beban puncak Sumatera sekarang sekitar 5.250 MW, itu sangat besar,” ujarnya.

Ahsan Sidiq  menambahkan  bahwa potensi Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) dan Biogas (PLTBg) merupakan salah satu opsi pemenuhan kebutuhan kelistrikan. Pengembangan PLTBm dan PLTBg diarahkan untuk menambah daya mampu sistem, mengurangi susut energi, dan mengurangi peran Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) pada daerah yang terisolasi. 

Setidaknya, FGD kali  ini menyimpulkan  lima poin penting, yakni: potensi energi di Sumsel cukup berlimpah terutama di sektor EBT, Sumsel merupakan lumbung energi nasional namun memiliki rasio elektrifikasi yang rendah karena distribusi jaringan listrik yang kurang.

Pemerintah  memberikan peluang kepada Pemerintah Daerah untuk mengajukan usulan pendanaan APBN terkait pengembangan sektor EBTKE, koordinasi antara Pemerintah  dan Pemerintah Daerah diperlukan dalam penyusunan Rencana Kelistrikan Nasional (RKN), dan Pemerintah Daerah diminta untuk menyerahkan Rencana Umum Kelistrikan Daerah (RUKD) kepada Pemerintah  sebagai masukan penyusunan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). (mk)

 

 

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category