Other

Sofyano Zakaria: Memilih Sosok Dirut Pertamina, Tantangan Bagi Pemerintah

img title

Jakarta, petroenrgy.id - Pertamina sebagai perusahaan energi, pada dasarnya memerlukan Direktur Utama yang handal dan sudah terbukti menguasai bisnis migas.  Karena, pada saat menghadapi gejolak seperti harga minyak yang anjlok, misalnya, Pertamina membutuhkan nakhoda yang mampu melakukan terobosan yang mampu mencetak laba yang besar - diatas perolehan laba pada tahun 2016 lalu.

Hal tersebut di atas dikemukan oleh pengamat kebijakan energi yang juga Dirktur Puskepi, Sofyano Zakaria, di Jakarta, Selasa (14/3).

“Direktur Utama  Pertamina harus profesional yang menguasai penuh pengetahuan tentang bisnis Pertamina, memiliki leadership yang handal yang  mampu menjadi perekat antar sesama insan Pertamina,  dan memiliki kemampuan manajerial yang handal,” kata Sofyano Zakaria.

Menurutnya, menempatkan orang untuk menjadi Orang Nomor Satu  Pertamina tidak boleh coba coba. Karena, Pertamina adalah sebuah perusahaan berhubungan dengan hajat hidup rakyat secara langsung.

“Artinya, Dirut dan atau direksi Pertamina harus pula mendapat support penuh dari seluruh pekerja Pertamina,”  ujar Sofyano Zakaria.

Kuatnya leader ship seorang Direktur Utama Pertamina, kata Sofyano Zakaria, ini akan mampu menjaga kesatuan dan kebersamaan di  tubuh korporasi.

“Artinya, Dirut Pertamina harus orang yang diyakini mampu mempersatukan seluruh jajaran direksi dan juga pekerja Pertamina,” tandas Sofyano Zakaria.

Mengambil ext dirut sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain, misalnya, untuk dijadikan  sebagai Dirut Pertamina akan sangat mudah mendapat penilaian  dari masyarakat atau dari pekerja Pertamina. Sebab, keberhasilan seorang dirut BUMN apapun akan dinilai masyarakat dari keberhasilan memperoleh laba BUMN yang dipimpinnya.

Sofyano Zakaria menjelaskan, pekerja BUMN apapun pasti akan memberi penilaian positif kepada dirut yang terbukti mampu memberi laba signifikan kepada bumn yang pernah dipimpinnya.

“Terkait dengan pengangkatan Dirut Pertamina, ini harusnya menjadi pertimbangan utama bagi Bapak Presiden Joko Widodo dan Ibu Menteri BUMN Rini Soemarno serta menteri-menteri terkait lainnya, bhwa jangan sampai masyarakat menilai pengangkatan Dirut Pertamina terkait dengan kepentingan politik atau kepentingan klompok tertentu saja,” kata Sofyano Zakaria.

Sofyano Zakaria lebih jauh menghimbau Pemerintah,  bila  Dirut Pertamina diambil dari external Pertamina,  maka harusnya diambil dari dirut BUMN yang terbukti berhasil membukukan laba signifikan pada BUMN yang pernah dipimpinnya.

“Jika ternyata pada tahun 2017 ini laba Pertamina menurun tajam dibanding tahun 2016 , maka yang  akan jadi sorotan masyarakat adalah pemerintah dalam hal ini Presiden,” kata Sofyano Zakaria, sambil menambahkan,  “Boleh jadi ini akan mencederai kepercayaan publik terhadap Presiden disamping berpengaruh pula terhadap penerimaan negara dari dividen yang disumbang oleh Pertamina.”

Disisi lain, kata Sofyano Zakaria,  keberadaan dan suara pekerja Pertamina harusnya didengar oleh pemerintah, sebab maju mundurnya Pertamina akan  bergantung besar kepada peran pekerja Pertamina.

“Mereka (pekerja Pertamina—Red) pernah ‘trauma’ dengan isu matahari kembar yang dikembangkan di Pertamina dan ini harus jangan sampai terulang lagi,” ujar Sofyano Zakaria.

Menurut Sofyano Zakaria, kepemimpinan di Pertamina idealnya  bisa membuat pekerja   "happy" karenanya sosok  Dirut Pertamina adalah sosok yang mereka harapkan. Sebaliknya, Dirut Pertamina yang mereka tidak harpakan tentu ini akan melahirkan dukungan semu dan tidak maksimal.

Sofyano Zakaria mengatakan, terpuruknya harga minyak dunia mau tidak mau harus ditutupi oleh Pertamina dengan terobosan bisnis lain yang bisa dikerjakan Pertamina.

“Artinya, bisnis terobosan ini harus mendapat dukungan penuh dan solid sepenuh hati dari pekerja Pertamina dan tidak bisa mengandalkan kepada pemerintah semata yang bergantung kepada kewenangan direksi,” kata Sofyano Zakaria.

Tanpa dukungan yang solid dan all out khususnya dari direktorat yang bisa difungsikan melakukan terobosan bisnis , maka harapan Pertamina bisa menyumbang pendapatan besar dari bumn kepada negara , hanya akan sebatas menjadi harapan belaka.

Berharap penerimaan Pertamina bergantung kepada penjualan minyak , itu sulit terlaksana , karena besarnya laba dari penjualan minyak bergantung kepada besaran harga minyak dunia. Sepanjang harga minyak dunia masih seperti saat ini jangan pernah berharap penjualan minyak bisa menyumbang laba dan dividen yang besar bagi pemerintah. Dan ini sangat berpengaruh terhadap kondisi keuangan pemerintah saat ini.

Memperbesar penerimaan dengan upaya Menekan cost operasional pertamina dengan efisiensi , juga nyaris tidak bisa dilakukan maksimal lagi , karena efisiensi punya batas minimal dan itu nyaris sudah dilakukan pertamina di tahun 2015 dan 2016. Pemaksaan yang berlebihan terhadap efisiensi bisa jadi bumerang yang malah bisa membuat pertamina tak berdaya.

Pemerintah harus nya ingat dan paham bahwa Pertamina sedang dibebani pemerintah untuk menjalankan program yang memberi citra baik bagi pemerintahan jokowi yakni bbm satu harga diseluruh negeri . Juga bagaimana mengurangi subsidi elpiji dan menjadikan harga elpiji satu harga diseluruh tanah air.

“Lagi-lagi, ini memerlukan sentuhan khusus dari nakhoda dan direksi Pertamina,” kata Sofyano Zakaria.

Ditegaskan, hal ini bisa terwujud dengan kerjasama yang solid dari seluruh insan pertamina termasuk direksi yang ada yang notabenenya bukanlah pekerja Pertamina.

“Artinya, ini harus dipahami bahwa direksi pertamina dan juga dirut pertamina harus mampu menempati relung hati terdalam dari pekerja Pertamina sehingga dukungan terhadap direksi keluar dari lubuk hati mereka dan bukan bersandar kepada perintah belaka,” tandas Sofyano Zakaria.

Sebagai BUMN strategis,  BUMN enerji terbesar dinegeri ini, kata Sofyano menambahkan, sangatlah pantas jika pemerintah mlakukan keberhati-hatian dalam menempatkan nakhoda tertinggi di tubuh Pertamina.

Sekali lagi, Sofyano mengngatkan, penempatan Dirut Pertamina tidak boleh coba coba atau uji coba kemampuan orang.

Pertamina harus mampu membuktikan memberikan sumbangan keuangan bagi pemerintah disamping menjalankan misi pemerintah dalam memberi pelayanan kepada masyarakat.

“Menurut saya, bersabar sedikit dalam menentukan Dirut Pertamina, asalkan dapat menghasilkan yang pempin Pertamina terbaik, bukanlah menjadi soal yang memberatkan bagi Presiden,” pungkasnya. (mk)

 

 

 

 

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category