Global

Pruitt, Angin Segar Industri Batubara Global

img title

Jakarta, petroenergy.id - Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS untuk masa jabatan empat tahun mendatang  akan memberikan angin segar bagi industri batubara global. Indonesia bakal memetik manfaat walau tidak langsung.

Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA), Hendra Sinadia mengatakan, indikasi itu ditandai dengan diangkatnya pejabat Lingkungan Hidup AS yang dikenal sebagai sosok yang sangat pro pemanfaatan fosil sebagai energi.

Seorang pejabat transisi mengatakan kepada harian New York Times, seperti dilansir VOAIndonesia,  bahwa Donald Trump berencana mengangkat Jaksa Agung Oklahoma, Scott Pruitt, untuk memimpin Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) AS.

Pruitt dikenal telah menjadi pengecam keras terhadap apa yang disebutnya “agenda aktivis” EPA dan mengatakan dia tidak percaya perubahan iklim disebabkan oleh emisi karbon buatan manusia. Ia mengatakan, perdebatan mengenai perubahan iklim masih jauh dari selesai.

Sebagai pejabat penegak hukum tertinggi Oklahoma, Pruitt sekarang terlibat dalam gugatan hukum bersama 23 negara bagian lain terhadap EPA mengenai peraturan-peraturan lingkungan.

Dia juga telah mengajukan laporan untuk mendukung proyek saluran pipa minyak Keystone XL, yang ditentang oleh pemerintahan Barack Obama.

Menurut Hendra kepada PetroEnergy, Jumat (9/12/2012) di Jakarta,  pengangkatan Pruitt menjadi sinyal kuat bahwa Trump   bisa saja merevisi atau bahkan  mencabut kebijakan ‘clean power plan’ yang ditelurkan di era kepemimpinan Presiden Barack Obama.  “Trump akan merealisasikan janji-janji kampanyenya,” ujar Hendra Sinadia.

Hendra mengatakan, bila benar Trump mencabut  kebijakan clean power plan, dipastikan aliran uang untuk mendanai proyek-proyek batubara dan kelistrikan akan terbuka kembali  dari perbankan hingga pun Word Bank.

“Sehingga cost of fund lebih menarik, dan ini secara tidak langsung memberikan dampak positif bagi industri batubara nasional,” ujar Hendra.  

Namun Hendra belum dapat memastikan apakah kondisi ini nanti akan mengerak harga batubara di pasar global. Ia hanya mengatakan, harga batubara dimungkinkan bergerak di kisaran US$70-US$90 per ton sepanjang 2017.

Yang jelas, pemerintah AS boleh jadi akan kembali membuka kran penggunaan batubara di dalam negeri, di antaranya untuk industri pembangkit. “AS sendiri masih membutuhkan batubara. Akibat dampak kebijakan Obama, batubara AS di ekspor ke kawasan Asia,” ujarnya.

Sinyal itu semakin kentara jelas manakala melihat gerakan sejumlah warga yang daerahnya memiliki potensi batubara mengajukan gugatan ke Mahkamah Agung AS.

“Kepala Badan Perlindungan Lingkungan AS yang dipilih Trump  sangat pro. Dan itu sudah sinyal. Jadi head line di media AS. Ini berita hangat,” ujar Hendra. (san)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category