Maritime

Presiden: Implementasi DOC Untuk Perdamaian Di Laut Cina Selatan

img title

Vientiane, PetroEnergy.id -- Presiden Joko Widodo mendorong agar ‘Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea’ (DOC) harus diimplementasikan secara penuh dan efektif. “COC (Code of Conduct) harus segera diselesaikan karena Kawasan Laut China Selatan tidak boleh menjadi ‘power projection’ kekuatan-kekuatan besar,” kata Presiden di hadapan kepala negara ASEAN dan Premier RRT Li Keqiang pada saat pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-RRT ke-19 di Vientiane, Laos.

Untuk itu, Presiden menyambut baik dan mendorong implementasi ‘Code for Unplanned Encounters at Sea’ (CUES) in the South China Sea dan Komunikasi Hotline antara Pejabat Tinggi terkait Tanggap Darurat Maritim di Laut China Selatan. “Saya yakin konsistensi implementasi CUES dan HOTLINE akan berkontribusi bagi perdamaian dan stabilitas keamanan di Laut China Selatan,” ujar Presiden.

Selain itu, ASEAN dan RRT juga didorong untuk memajukan stabilitas keamanan di jalur utama Maritim di kawasan. Dengan total nilai perdagangan USD 5 Triliun per tahun, keamanan maritim merupakan bagian penting dari kesejahteraan masyarakat, tidak saja di kawasan tapi bagi ekonomi dunia.

“Dengan nilai USD 5 Triliun per tahun, tidak bisa tidak, kerja sama keamanan maritim harus ditingkatkan,” kata Presiden.

Oleh karenanya Presiden mendorong agar para negara-negara terkait untuk memulai implementasi nyata dari kesepakatan ‘EAS Statement on Enhancing Regional Maritime Cooperation’ yang telah disepakati tahun 2015. “Perlu dijadikan prioritas, perlu dilakukan secara serius sehingga rasa saling percaya di kawasan akan terus meningkat,” kata Presiden.

ASEAN dan RRT harus mampu berkontribusi terhadap perwujudan perdamaian, stabilitas dan keamanan di Laut China Selatan. Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo “Kemitraan ASEAN dan RRT harus mampu, saya tegaskan, harus mampu berkontribusi terhadap perdamaian, berkontribusi terhadap stabilitas dan berkontribusi terhadap keamanan di Laut China Selatan,” ujar Presiden.

Kontribusi tersebut dilakukan dengan menghormati Hukum Internasional (termasuk UNCLOS 1982). “Semua pihak harus dapat menahan diri. Semua pihak harus mengedepankan penyelesaian sengketa secara damai,” kata Presiden.

Perayaan 25 Tahun Hubungan Dialog ASEAN dan RRT

Disisi lain ASEAN dan RRT tahun ini merayakan 25 tahun kemitraan erat, sejak bergabungnya RRT sebagai mitra wicara ASEAN pada tahun 1991. “Dalam 25 tahun ini RRT telah menjadi mitra dagang terbesar ASEAN dengan volume perdagangan USD 346,4 Milyar dan telah menjadi mitra investasi ke-4 terbesar ASEAN dengan nilai investasi USD 8,2 milyar,” ujar Presiden.

Ke depan, lanjut Presiden, ASEAN-RRT perlu terus mengedepankan hubungan ekonomi yang seimbang dan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.
“Pertumbuhan ekonomi memerlukan, kawasan yang damai, kawasan yang stabil dan kawasan yang aman,” ujar Presiden.(adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category