Energy

PLN Usulkan Sistem Hybrid untuk Jual-Beli Listrik Pembangkit Berbasis EBT

img title

Jakarta, petroenergy.id - PLN usulkan sistem hybrid untuk jual-beli listrik dari pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) di luar Jawa. Konsep dasar adalah listrik dari sumber energi yang berbeda-beda tetap akan dihitung menjadi satu.

Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan, sudah mengirimkan usulan mengenai penghitungan tarif dengan sistem hybrid tersebut kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan pada dua pekan lalu.

“Ini mixing, misalnya tenaga matahari dengan angin dan lain-lain. Kami minta satu paket untuk 24 jam,” kata dilansir katadata,  Senin (31/10).

Dengan sistem ini, kontraktor akan membangun pembangkit listrik berdasarkan potensi yang ada. Pertimbangan lainnya adalah jumlah konsumen yang ada di luar Jawa lebih sedikit dibandingkan yang ada di Jawa.

Misalnya, jika di suatu pulau ada 800 kepala keluarga (KK) dan kebutuhan listriknya ditaksir sebesar 300 Kilowatt, maka bisa membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro, angin dan matahari yang ada di daerah tersebut. “Karena cuma 300 KK, buat PLN bangun distribusi di sana. Tapi tetap pemasarannya PLN, tidak mungkin jual di atas 1.800,” ujar Sofyan.

Sofyan mengatakan, saat ini sudah ada lima perusahaan swasta yang tertarik menggunakan sistem hybrid untuk membangun pembangkit EBT di kawasan Indonesia Timur. Pembangkit listrik dengan sistem ini maksimum berkapasitas 6 Mega Watt.

Secara tarif, menurut Sofyan, PLN juga berani membeli harga listrik lebih mahal untuk pengembang di luar Jawa dibandingkan dengan di Jawa. Dengan begitu, pembangunan pembangkit berbasis EBT di daerah makin berkembang.

Menurut dia, pembangunan listrik di wilayah terpencil, apalagi berbasis EBT, sangat penting. Sebagai BUMN, PLN menjadi tangan kanan negara yang bertindak sebagi agen pembangunan dan juga profit. "Keseimbangan ini yang perlu," ujarnya.

Di sisi lain, produksi dari energi baru terbarukan di Indonesia memang masih di bawah potensi yang ada. Kementerian ESDM mencatat potensi panas bumi di Indonesia mencapai 29.544 megawatt (MW), tapi pemanfaatannya untuk produksi baru  1.490,4 MW. Potensi energi surya lebih besar lagi, yakni 532.579 MW dan hanya diproduksi 16 MW.

Alternatif energi lainnya adalah air dengan potensi 75.000 MW, namun produksinya baru 5.383 MW. Sedangkan potensi bioenergi 32.654 MW, namun produksinya hanya 86,23 MW. (mk)

 

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category