Oil & Gas

Pertemuan Qatar Wacanakan Pembatasan Produksi

img title

Jakarta, petroenergy.id - Pemimpin negara-negara produsen minyak berkumpul di Qatar pada Minggu (17/4), membahas kemungkinan menahan tingkat produksi sebagai respons atas pelemahan harga minyak global.

Pertemuan para pemimpin negara penghasil minyak tersebut digelar guna menuntaskan kesepakatan awal untuk membekukan rata-rata produksi harian minyak mentah dalam beberapa bulan mendatang agar tidak melebihi tingkat produksi Januari.

Dikutip CNN Indonesia edisi Senin (18/4), menyebutkan  berdasarkan draft salinan perjanjian yang dikutip oleh Reuters, pembatasan produksi minyak mentah akan berlangsung hingga 1 Oktober 2016. Anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara penghasil minyak mentah non OPEC kemudian akan bertemu lagi di Rusia untuk meninjau kemajuan dari rekayasa harga minyak, yang dalam dokumen tersebut diistilahkan dengan "upaya progresif pemulihan pasar minyak".

Namun, draft tersebut tidak disebutkan adanya kesepakatan akhir yang tercapai dalam pertemuan tersebut. Namun, Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Perminyakan Kuwait, Anas Khalid al-Saleh, meyakini kesepakatan itu akan segera terwujud.

Menteri Energi dan Industri Qatar, Mohammed bin Saleh al-Sada,  mengatakan pertemuan tersebut setidaknya diikuti oleh perwakilan-perwakilan dari 15 negara produsen minyak, yang menguasai 73 persen produksi minyak global. Sejumlah negara penghasil minyak yang tidak ikut serta dalam pertemuan tersebut antara lain Amerika Serikat dan Iran.

Diberitakan bahwa Pemerintah Iran tidak akan menerima usulan pembatasan produksi sampai pangsa pasarnya pulih seperti sebelum sanksi embargo diberlakukan. Pertemuan ini merupakan pertemuan lanjutan di Doha, Qatar pada Februari lalu yang waktu itu diikuti oleh Qatar, Rusia, Arab Saudi dan Venezuela. Keempat negara produsen minyak itu berjanji menahan laju produksi minyak mentahnya jika produsen lain melakukan hal yang sama.

Para pemimpin negara penghasil minyak berharap pembatasan produksi ini akan membantu pemulihan harga minyak dunia dari kejatuhan dramatis sejak musim panas 2014, saat harganya berada di atas US$100 per barel. Kendati demikian, tidak ada yang berbicara serius tentang kemungkinan langkah yang lebih dramatis seperti pemangkasan produksi.

Pada Januari 2016, harga minyak mentah dunia anjlok hingga menembus level US$30 per barel, yang merupakan level terendah dalam 12 tahun terakhir. Namun pada pekan lalu, harga minyak kembali naik ke kisaran US$40 per barel yang sebagian dipicu oleh spekulasi pelaku pasar tentang hasil pertemuan Qatar. mk

 

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category