Other

Penggunaan Batubara Pada Pembangkit Berbahaya, Benarkah?

img title

Jakarta, petroenergy.id - Pemerintah diminta mulai memikirkan penggantian batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik dengan sumber energi lain yang lebih ramah lingkungan.

Greenpeace melaporkan, sekitar 40 persen listrik yang dihasilkan di seluruh dunia berasal dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara, karena murah. Demikian dikatakan juru kampanye iklim dan energi Greenpeace Indonesia Bondan Andrianu ‎di Kantor WALHI, Jakarta, beberapa hari lalu.

Greenpeace mengklaim, saat ini popularitas batu bara sebagai bahan bakar mulai hilang. Masyarakat dunia mulai sadar akan dampak pencemaran yang dihasilkan dari pembakaran batu bara.

Laporan Greenpeace juga mengungkap sebanyak 200 PLTU batu bara di Amerika Serikat dijadwalkan akan ditutup. Sebaliknya, dilaporkan, AS akan menambah 46 gigawatt listrik yang berasal dari energi terbarukan, seperti angin, matahari, dan panas bumi.

Bondan mengungkapkan, pada dasarnya penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik sangat tidak efisien. Sebab, dari 1 ton batu bara yang dibakar, hanya 30 persen saja yang efektif terpakai untuk pengoperasian pembangkit listrik tersebut. "Sisanya 70 persen menjadi partikel dan penyebar di udara," ujarnya.

Greenpeace menuding pembakaran batu bara pada PLTU telah menghasilkan jutaan ton polusi setiap tahunnya, menghasilkan berbagai macam zat kimia berbahaya seperti merkuri, arsenik, timbal, kadmiun dan partikerl halus beracun lain. Zat-zat ini akan bercampur dengan udara yang dihirup oleh masyarakat.

Pembakaran batu bara juga memancarkan polutan nitrogen oksida (NOx) dan sulfur oksida (SO2) yang berkontribusi pada pembentukan hujan asam dan polusi PM2,5. "PM2,5 bisa masuk hingga ke aliran darah. Ini bisa sampai ke keturunannya.‎ Selama puluhan tahun akan numpuk di dalam tubuh," ujar Bondan.

Greenpeace merilis, polusi udara merupakan penyebab dari tiga juta kematian dini di seluruh dunia. Dan pembakaran batubara merupakan salah satu kontributor terbesar dari polusi ini. Lebih jauh, polusi PM2,5 ini mampu menyebabkan peningkatan risiko kanker paru-paru, stroke, penyakit jantung dan penyakit pernapasan.

Greenpeace mensinyalir, polusi udara hasil yang dihasilkan PLTU telah menyebabkan kematian dini pada 6.500 jiwa per tahun. Jika proyek 35 ribu MW tersebut terealisasi, seperti diberitakan liputan6.com, diprediksi potensi kematian dini akan meningkat menjadi 15.700 jiwa per tahun di Indonesia dan secara total mencapai 21.200 jiwa per tahun jika termasuk masyarakat di luar Indonesia.

Tidak berbahaya

Namun tidak begitu dalam kacamata pandang PT PLN (Persero). Perseroan ini menyatakan bahwa PLTU berbahan bakar batu bara  yang telah beroperasi atau masih dibangun telah menggunakan tekonologi yang dapat meminimalisir emisi, sehingga tidak membahayakan kesehatan. 

Teknologi yang digunakan terbilang  canggih karena mampu menangkap karbon dan patikel debu hasil pembakaran. Dengan adanya teknologi tersebut, emisi yang dihasilkan sangat rendah. "Ada sistem namanya carbon capture," kata Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN I Made Suprateka Made, di Pontianak, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu.

Untuk membuktikan PLTU tidak mengganggu kesehatan, data Puskesmas di sekitar PLTU menunjukkan tidak ada masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat emisi PLTU.

Fakta berikutnya adalah kondisi lingkungan di sekitar PLTU, sebut saja  PLTU Suralaya Cilegon Banten di mana program penghijauan yang dilakukan PLN berjalan baik dan masyarakat memanfaatkannya untuk berwisata. (san)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category