Energy

Pengembangan EBT Terganjal Lahan & Izin

img title

Jakarta, petroenergy.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) optimis mampu merealisasikan target 25 persen pembangkit listrik dari energi baru terbarukan (EBT) di tahun 2025. Dalam bauran energi 2025, EBT mendapat porsi sebesar itu, sementara pembangkit batubara (Pembangkit Listrik Tenaga Uap-PLTU) 50 persen dan  pembangkit gas (Pembangkit Listrik Tenagas Gas) 25 persen.

Optimisme itu dikemukakan  Syah Darwin Siregar, Kepala Divisi Energi Baru Terbarukan PT PLN, dalam Diskusi Akhir Tahun Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Evaluasi 2016 dan Outlook 2017, Rabu (21/12/2016) di Royal Kuningan Hotel, Jakarta.

Menurut Darwin, pembangkit listrik EBT berkontribusi total sebesar 5.900 MW saat ini. “Itu yang sudah beroperasi,” jelas Darwin. Hingga kini kapasitas pembangkit EBT yang sudah terdata oleh Ditjen EBTKE total sebesar 25.000 MW. Terbesar adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) disusul  Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP).

Meski dibayangi-bayangi optimisme, Darwin mengakui kendala yang menghadang bisa saja mengganggu terget yang hendak dicapai oleh PLN. “Kami tidak gampang mendapat tanah, termasuk juga perizinan,” terang Darwin.  

Dalam usaha mempercepat realisasi pemanfaatan EBT untuk pembangkit listrik, menurut Darwin, saat ini  PLN tengah giat melakukan pemetaan lokasi. “Di kawasan Kalimantan, yang potensial dikembangkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Biomasa (PLTBM). Di Sumatera, PLTBM dan PLTA. Di Sulawesi PLTA dan di Papua PLTBM dan sedikit PLTA,” jelasnya. (san)   

   

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category