Maritime

MV Iriana, Kapal Tenaga Listrik Pertama di Indonesia

img title

Jakarta, petroenergy.id -- Industri galangan kapal nasional telah berhasil memproduksi kapal tenaga listrik yang pertama di Indonesia untuk mengangkut semen curah (cement carrier) berkapasitas 9.300 deadweight tonnage (DWT) dengan menerapkan sistem electric propulsion.

"Kapal produksi PT. Sumber Marine Shipyard ini merupakan wujud nyata kemandirian industri perkapalan nasional, yang nantinya dapat mendukung kelancaran distribusi barang khususnya untuk muatan semen yang akan digunakan bagi kegiatan pembangunan di Indonesia,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulisnya, Minggu (26/3/2017).

Kapal yang dipesan PT Pelayaran Andalas Bahtera Baruna (ABB), Jakarta ini digerakkan bukan dengan bahan bakar minyak, namun tenaga listrik yang dihasilkan oleh electric motor sehingga hemat energi serta ramah lingkungan. Indonesia pun menjadi negara nomor tiga di Asia dalam membangun jenis kapal ini setelah Jepang dan Taiwan.

Menperin menyampaikan, teknologi tersebut sama dengan yang digunakan oleh Jepang sebagai negara pertama yang menerapkannya. Hanya saja, kapal buatan Indonesia ini lebih canggih karena mampu menghemat bahan bakar lebih besar. “Untuk itu, kami memberikan apresiasi karena teknologi di sini akan menghemat energi hingga 20%, sedangkan di Jepang hanya saving sekitar 10%,” ungkapnya. MV Irian memiliki spesifikasi panjang 117 meter, lebar 25,5 meter, tinggi 7,9 meter, kedalaman ke air 6,3 meter, dan kecepatan 10 knot. Kapal tersebut dikerjakan oleh putra putri Indonesia dalam waktu kurang dari setahun.

Bahkan, pemakaian bahan baku untuk kapal besar ini didominasi baja lokal produksi PT Krakatau Posco, Cilegon. Airlangga menambahkan, pembangunan kapal tersebut mampu menghemat devisa sekitar Rp260 miliar untuk satu kapal. Pemerintah dan dunia usaha pun dapat memperkerjakan banyak tenaga kerja lokal dan memperkuat mata uang Rupiah melalui pembangunan kapal ini. “Kapal ini menyerap tenaga kerja dan bahan baku lokal yang tinggi serta dibangun dengan tepat waktu,” ujarnya.

. Menperin menegaskan, industri perkapalan nasional telah mencapai beberapa kemajuan,di antaranya peningkatan jumlah galangan kapal menjadi sekitar 250 perusahaan dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 1 juta DWT per tahun untuk pembangunan baru dan sekira 12 juta DWT per tahun untuk reparasi kapal. Ke depan, kata Airlangga, kapasitas produksi untuk pembangunan baru maupun reparasi kapal akan terus ditingkatkan. Sejalan dengan upaya tersebut, didorong pula pengembangan industri komponen agar struktur industri maritim kita semakin kuat. (adi)

ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category