Profile

Mirza Targetkan Safety Sektor Migas Sebagai Budaya

img title

Jakarta, petroenergy.id -- DR. Mirza Mahendra, S.T.; M.T., adalah nama lengkap pria yang saat ini diberikan kepercayan memangku jabatan sebagai Kasubdit Keselamatan Hilir Migas, Ditjen Migas, Kementerian ESDM. Mirza, demikian ia disapa, memasang target yang cukup menantang, yakni agar budaya keselamatan kerja (safety) di sektor migas menjadi sebuah budaya.

Ia ingin mengubah mindset yang selama ini kerap mengabaikan faktor keselamatan kerja. Mirza mengakui, salah satu tugas berat dalam membangun budaya safety adalah meyakinkan setiap orang tentang pentingnya keselamatan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Padahal, semua orang pada prinsipnya menginginkan adanya keselamatan selama bekerja.

“Aktualnya akan terlihat perbedaan, bahkan terkadang keselamatan hanya dinilai sebagai slogan, atau sekadar mengikuti aturan sehingga sering dilanggar atau tidak dipedulikan. Inilah yang banyak menjadi pemicu kecelakaan,” ungkap Mirza dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (2/6).

Dengan kata lain, sambung dia, terjadinya kecelakaan kerja umumnya selalu bersumber dari masih rendahnya tingkat budaya keselamatan di sebagian pekerja migas bahkan sampai level manajemennya yang justru berpotensi menimbulkan kecelakaan atau bencana.

Mirza lantas mengutip analisis yang dilakukan Du Pont, yang membagi budaya keselamatan dalam perusahaan dalam 4 level, yakni level reactive, level dependent, level independent, dan level interdependent. Budaya keselamatan kelas dunia atau level 4 (interdependent) adalah jika semua orang sudah berbicara tentang safety baik bagi dirinya sendiri dan orang lain serta menjalankannya dengan konsisten. Berdasarkan hal ini, lalu berkaca pada kondisi keselamatan kerja sektor migas di Indonesia, tentu masih banyak yang harus diupayakan untuk mencapai standar budaya keselamatan kelas dunia tersebut. Pertanyaan mendasarnya adalah, apa yang harus dilakukan untuk dapat membangun budaya keselamatan migas secara efektif?

Menurut Mirza, membangun budaya keselamatan bukanlah persoalan mudah sehingga harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Ada berbagai teori mengenai budaya ini namun pada dasarnya membangun budaya keselamatan dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan dari bawah (bottom up upproach) dan pendekatan dari atas (top down upproach).

Pendekatan dari bawah adalah dengan melakukan pembinaan dan pembangunan nilai-nilai dan kesadaran yang akhirnya meningkat menjadi budaya. Hal ini tentu memerlukan waktu yang lama dan proses yang panjang bahkan bisa disebut life time effort. “Untuk itu perlu dikombinasi dengan pendekatan top down yaitu melalui proses pengawasan, pembinaan, observasi, reward and punishment dan lainnya untuk membuat agar setiap orang menjalankan dan mematuhi cara kerja aman, yang secara berkala akhirnya menjadi kebiasaan (habit) dan menjadi budaya,” Mirza menguraikan.(adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category