Maritime

Mengurai Kemacetan Pelayaran di Pelabuhan Tanjung Perak

img title

Surabaya, petroenergy.id – Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, tengah membahas rencana penetapan Alur Pelayaran Timur Surabaya (APTS) yang terintegrasi dengan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) dalam Forum Group Discussion (FGD) Penetapan Alur Pelayaran Timur Surabaya di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (26/4/2017).

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menyambut baik penyelenggaraan FGD karena terkait Rancangan Peraturan Menteri Perhubungan. “Yang paling utama adalah harmonisasi dan dukungan dari stakeholders agar nantinya penetapan APTS tersebut dapat dimanfaatkan oleh semua pihak untuk satu tujuan yaitu peningkatan kapasitas dan keselamatan pelayaran di perairan Timur Surabaya,” kata Menhub Budi.

FGD yang berlangsung setengah hari itu dibuka Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak, Capt. Hari Setyobudi, MM, dihadiri 75 peserta  terdiri dari para wakil dari Armada Timur TNI-AL, Lantamal V Surabaya, PT. Pelabuhan Indonesia III (Persero), BMKG Maritim Tanjung Perak, Bappeda Provinsi Jawa Timur, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Timur serta para Kepala Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jendereal Perhubungan Laut di wilayah Provinsi Jawa Timur.

Menurut Capt. Hari, APBS merupakan alur pelayaran yang menghubungkan kapal-kapal yang akan berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak dari Laut Utara Jawa. Sedangkan APTS merupakan penghubung pelabuhan-pelabuhan di APBS dengan pelabuhan di Jawa Timur antara lain Pelabuhan Pasuruan, Probolinggo, Panarukan, Kalbut, Branta, Kalianget, dan Banyuwangi serta pelabuhan di wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur.

Terkait  hal tersebut, Capt. Hari mengatakan  saat ini Kementerian Perhubungan sedang menyusun rancangan Keputusan Menteri Perhubungan tentang Penetapan Alur Pelayaran Timur Surabaya. Adapun latar belakang pentingnya penetapan APTS karena lalu lintas kapal yang keluar masuk ke pelabuhan Tanjung Perak sudah sangat padat dan dapat membahayakan keselamatan pelayaran.

Tercatat sedikitnya 50 unit kapal per hari keluar masuk di kolam pelabuhan Tanjung Perak melalui Alur Pelayaran Barat Surabaya. "Artinya, per bulan ada sedikitnya 1.500 unit kapal yang melintas di Alur Pelayaran Barat Surabaya. Betapa riskannya jika terjadi sesuatu yang membahayakan pada Alur Pelayaran Barat Surabaya," ucap Capt. Hari.

Sebagai informasi, APBS masih menjadi satu-satunya akses keluar dan masuk kapal ke pelabuhan Tanjung Perak. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada lalu lintas kapal di alur tersebut, kepentingan perniagaan di Pelabuhan Tanjung Perak secara keseluruhan akan terganggu. Oleh karena itu, dipandang perlu membuka jalur lalu lintas alternatif menuju ke pelabuhan  untuk mengurai kepadatan lalu lintas kapal di APBS.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, A. Tonny Budiono di tempat terpisah menyebutkan bahwa ia mendukung peningkatan keselamatan pelayaran di wilayah perairan Surabaya melalui pembukaan atau penetapan Alur Pelayaran Timur Surabaya.

“Penetapan Alur Pelayaran Timur Surabaya harus dilakukan secara cermat dan hati-hati agar dapat bermanfaat bagi para pengguna jasanya," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Laut, A. Tonny Budiono di tempat terpisah.

Penetapan ini, kata Dirjen, guna mendukung perekonomian di Kawasan Indonesia Bagian Tengah dan Bagian Timur. (san)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category