Global

Mencermati Pergerakan Harga Minyak Dunia

img title

Jakarta, petroenergy.id - Produksi minyak mentah Amerika Serikat dikabarkan bakal terus bertambah, dibarengi oleh  kepatuhan negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang sepakat melakukan gerakan pemotongan produksi. Dua situasi ini akan mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia ke depan.

Harga minyak Brent untuk pengiriman April, mengutip laman Reuters, Selasa (28/2/2017), diberitakan turun enam sen atau 0,1 persen menjadi US$ 55,93 per barel. Adapun harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik enam sen atau 0,1 persen ke posisi US$ 54,05 per barel.

Pertanyaannya, berapa rata-rata harga minyak mentah tahun ini? Analisa sejumlah analis “mengkhawatirkan”, karena  di antaranya ada yang memproyeksikan harga minyak bakal kembali ke level US$ 30 per barel. Itu pun dengan catatan, seperti dinyatakan analis dari  ABN Amro,   jika negara-negara yang tergabung dalam organisasi eksportir minyak (OPEC) tidak terus memangkas produksi.

Sebaliknya, analis Citi berpendapat harga minyak bisa kembali menguat ke level US$ 70 per barel di akhir tahun ini. Prediksi Bank of America Merrill Lynch lain lagi karena harga minyak akan berada di kisaran US$ 50 barel.

Hingga 2022 nanti, berdasarkan analisa Yahoo Finance, Senin (27/2/2017), Bank of America Merrill Lynch memperkirakan minyak mentah akan berada di rentang harga US$ 50 per barel hingga US$ 70 per barel.

Meski ada perbedaan analisa,  dilihat dari faktor fundamental, dimungkinkan harga minyak mentah merangkak naik, walau sangat pelan.

Kesepakatan OPEC

Kesepakatan OPEC telah berjalan hampir dua bulan, di mana negara anggota akan memangkas produksi global mencapai 1,8 juta barel per hari. OPEC menjanjikan pemotongan tersebut berlangsung enam bulan dimulai awal tahun hingga akhir Juni nanti. "Kepatuhan  negara-negara anggota OPEC benar-benar fantastis," ujar  Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih.

Dukungan atas kesepakatan itu juga datang dari negara non OPEC seperti Rusia dan Oman. Keduanya sepakat  akan mengurangi produksi. Rusia berjanji mengurangi produksi rata-rata 300 ribu barel per hari, dan menurut  Menteri Energi Rusia Alexander Novak, target pengurangan produksi bakal tercapai pada April atau Mei nanti.

Ironisnya, stok minyak mentah di pasar belum berkurang jauh. Ironisnya lagi, stok minyak mentah di Amerika Serikat malah meningkat 39 juta barel menjadi 518 juta barel sejak OPEC memulai pemotongan produksi pada Januari lalu.

Sejak pengurangan produksi OPEC, harga minyak berangsur naik ke level US$ 55 per barel. Untuk itu  kenaikan produksi AS patut diwaspadai. Untuk itu, OPEC melalui Sekjennya Mohammad Barkindo akan menyiapkan strategi baru.

Yang pasti, menurut analis Bank of America Merrill Lynch’s, keseimbangan baru tercapai pada 2022. Saat itu harga minyak akan berada di level tertinggi.

Mencari harga murah

Di saat dunia terfokus pada kesepakatan OPEC, pemerintah Indonesia mencoba membuat terobosan. Tersiar kabar, pemerintah akan memanfaatkan kedatangan delegasi Arab Saudi dan  melobi Raja Salman bin Abdul Azis Al Saud untuk memberikan harga minyak mentah yang lebih murah bagi Indonesia.

Kabar itu meluncur dari Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sujatmiko‎. Kedatangan Raja Arab Saudi tampaknya akan dimanfaatkan Indonesia untuk membicarakan kerjasama kedua negara. Salah satunya soal pasokan minyak mentah.

Pemerintah akan meminta Raja Arab Saudi memasukan Indonesia ke dalam jajaran negara importir minyak mentah yang mendapat perlakuan khusus. Dengan perlakuan khusus itu,  Indonesia bisa membeli  minyak mentah dengan harga lebih murah.

Berapa besaran volume impor yang akan diimpor Indonesia? Belum ada kepastikan. Indonesia tampaknya fokus dulu untuk mendapatkan harga minyak yang jauh lebih murah. (san)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category