Maritime

Mencegah Penyebaran Spesies Asing Melalui Manajemen Air Ballast

img title

Jakarta, petroenergy.id - Setiap negara mempunyai kewajiban melindungi dan melestarikan lingkungan laut. Juga mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber sumber kekayaan alamnya sesuai dengan kewajibannya melindungi dan melestarikan lingkungan laut.

​Hal itu dikatakan Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Ditjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, Capt. Rudiana, MM pada Workshop Pengendalian dan Manajemen Air Ballas dan Sedimen Kapal  bertempat di Hotel Alila Jakarta, beberapa hari lalu. Acara ini digelar Ditjen Perhubungan Laut bekerjasama dengan  Indonesian National Shipowners Association (INSA).

Workshop yang dihadiri seluruh stakeholders di bidang maritim ini diselenggarakan dalam rangka kesiapan pemberlakukan Konvensi Internasional untuk pengendalian dan manajemen Air Ballas dan sedimen dari Kapal Tahun 2004 (International Convention for the Control and Management of Ships Ballast Water and Sedimens, 2004) di Indonesia pada 8 September 2017, 

Pengendalian dan manajemen air ballast dan sedimen dari kapal merupakan suatu upaya untuk mencegah penyebaran spesies asing yang bersifat invasive atau seringkali dikenal  sebagai organisme dan pathogen akuatik yang berbahaya.

Konvensi internasional untuk pengedalian dan manajaemen air ballas dan sedimen dari kapal 2004 menyatakan bahwa organisme dan patogin akuatik yang berbahaya adalah organisme atau patogin akuatik yang apabila dilepaskan di air laut termasuk estuary atau ke dalam air tawar dapat menyebabkan bahaya terhadap lingkungan kesehatan manusia, property atau sumber daya, merusak keanakaragaman hayati atau mengganggu pemanfaan yang sah terhadap  suatu area.

“Air ballas berperan penting menjaga  keseimbangan kapal. Ketika air ballas dibuang di suatu area, organisme dan pathogen yang ada di dalam air ballas tersebut juga ikut terbawa masuk ke dalam air laut di tempat tersebut. Organisme yang ada di tempat air ballas dibuang dikenal sebagai spesies asing. Beberapa studi menunjukkan bahwa spesies asing tersebut dapat menjadi spesies asing yang bersifat invasive dan mengakibatkan gangguan terhadap spesies lokal atau terhadap keseimbangan ekosistem di area tersebut,” ujarnya.

Bernilai tinggi

Sebagai negara kepulauan yang besar, Indonesia dikelilingi oleh laut yang luas dengan ekosistem  laut yang bervariasi serta mempunyai keaneka ragaman hayati yang bernilai tinggi, baik dalam nilai ilmu pengetahuan  maupun nilai ekonomi. Ekosistem sungai, pesisir dan laut Indonesia sangat produktif dan menjadi tumpuhan kehidupan sebagian besar masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

Karenanya, ekosistem laut Indonesia harus dilindungi dari kemungkinan terjadinya perubahan akibat organisme dan pathogen akuatik yang berbahaya dan merugikan.  Berbagai ekosistem laut yang ada, di antaranya ekosistem pesisir dan laut dangkal, ekosistem terumbu karang, ekosistem laut dalam dan eksistem spesifik pada teluk tertentu telah menjadi habitat berbagai organisme dan biota yang bersifat endemic termasuk ikan, kerang, udang, teripang, siput laut, biota karang dan lain-lain dengan keanekaragaman yang sangat tinggi.

Lautan Indonesia memiliki variasi biota karang, terutama di kawasan yang dikenal sebagai Kawasan Segitiga Karang (Coral Triangle) yang meliputi kawasan timur Indonesia, Malaysia, Filippina, Papu New Guinea, Timor Leste dan Kepulauan Solomon.

Kawasan ini merupakan kawasan dengan kehidupan laut terkaya di dunia dengan lebih dari enam ratus jenis karang dari tiga ribu jenis ikan yang menopang kehidupan dan keamanan pangan untuk 120 juta penduduk yang hidup di kawasan ini. Juga memiliki nilai ekonomi lebih dari 2,3 milliar dollar amerika per tahun.

Ekosistem perairan Indonesia rentan terhadap pengaruh dari luar, termasuk pengaruh negative organisme dan pathogen akuatik yang berbahaya. Mengingat pemanfaatan laut yang begitu luas, kondisi perairan Indonesia harus di lindungi dari kemungkinan perubahan yang merugikan.

Salah satu aspek yang perlu diatur adalah manajemen air ballas dari kapal yang berpotensi membawa organisme dan patogen akuatik berbahaya, baik dari kapal berbendera asing yang singgah di pelabuhan Indonesia atau melintasi perairan Indonesia dan melakukan pelayaran internasional. Kekayaan sumber daya hayati di perairan Indonesia harus dilindungi dan dijaga dari masuknya spesies asing yang invasive dan membahayakan lingkungan laut Indonesia.

Pemberlakuan Konvensi Internasional untuk pengendalian dan manejemen air ballas dan sedimen dari kapal 2004akan berdampak tidak hanya bagi pemerintah Indonesia sebagai regulator, tetapi juga kepada industri pelayaran dan penunjangnya. “Saya optimis bahwa kerjasama yang efektif dan berkesinambungan di berbagai bidang yang berkaitan dengan pelaksanaan konvensi ini akan bermanfaat bagi Indonesia,” ujarnya. (san).

   

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category