Business

Medco, Perlu Dana US$ 3,4 Miliar untuk Pengembangan Usaha Tahun 2017

img title

Jakarta, petroenergy.id - PT Medco Energi Internasional Tbk perlu dana sekitar US$ 3,4 miliar atau setara Rp 46 triliun (kurs Rp 13.500 per dolar Amerika Serikat) untuk pengembangan usahanya tahun depan. Pengembangan usaha itu meliputi tiga proyek besar di bidang minyak dan gas bumi, pertambangan, dan pembangkit listrik.

Presiden Direktur Medco, Hilmi Panigoro, mengungkapkan, kebutuhan dana untuk proyek Blok A sebesar US$ 600 juta, dan untuk PLTP Sarulla US$ 1,6 miliar. Dana yang disiapkan untuk membangun smelter sekitar US$ 800 juta sampai US$ 1,2 miliar. “Itu yang akan kami bangun tahun depan,” kata Hilmi di Jakarta, Kamis (24/11).

Menurutnya, ketiga proyek tersebut adalah Blok A di Aceh, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla di Sumatera Utara dan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian  atau smelter PT Amman Nusa Tenggara (PT Newmont Nusa Tenggara).

Pembangunan fasilitas produksi Blok A saat ini sudah mencapai 30 persen. Targetnya, gas dari blok tersebut sudah mengalir pada kuartal I 2018. Blok ini bisa memproduksi gas sebesar 110 juta kaki kubik per hari. Medco menggandeng Japan Petroleum Exploration (JAPEX) Co Ltd serta KrisEnergy Ltd untuk menggarap blok ini.

Adapun proyek PLTP Sarulla fase kedua akan dikerjakan mulai tahun depan menyusul fase pertama. Fase pertama diharapkan mulai beroperasi akhir tahun ini. Dalam proyek ini, Medco bermitra dengan Itochu Corporation, Ormat Technologies, serta Kyushu Electric Power Co.

Medco juga berencana membangun smelter untuk mengolah hasil tambang dari Amman Nusa Tenggara. Perusahaan ini baru saja diakuisisi Medco dari Newmont Corporation.

Medco mengakuisisi Newmont melalui Amman Mineral Internasional (AMI). AMI sebelumnya mengambil alih kepemilikan 82,2 persen saham NNT. Perinciannya adalah: 56 persen saham milik Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation;  saham PT Multi Daerah Bersaing 24 persen; dan PT Indonesia Masbaga 2,2 persen.

Setelah menyelesaikan proses akuisisi tersebut, Medco berencana membangun smelter. Apalagi awal Januari 2017, pemerintah akan melarang ekspor mineral tanpa pemurnian dan pengolahan. “Kami sudah berkomitmen membangun smelter ,” ujar Hilmi. 

Sayangnya, Medco sampai saat ini belum menentukan kapasitas smelter. Meski begitu, konstruksi ditargetkan mulai akhir 2017.  Medco terus berdialog dengan pemerintah mengenai larangan tersebut dan tidak berhenti produksi. 

Di sisi lain, Medco tidak akan menjual aset yang saat ini ada meskipun utang Medco juga membesar. Perusahaan energi swasta nasional ini akan melakukan right issue untuk memperkuat struktur permodalan. (mk)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category