Investment

LNG Badak Batal Tutup Salah Satu Fasilitas Train

img title

Jakarta, PetroEnergy.id -- Presiden Direktur Badak NGL Salis S. Aprilian mengumumkan bahwa pihaknya mengurungkan niat menutup salah satu fasilitas train gas alam dari 4 train yang beroperasi. "Memang rencananya tahun ini akan ada satu train yang ditutup karena pertimbangan penurunan pasokan gas. Namun karena pasokan gas dari Blok Mahakam yang kini masih dikelola oleh Total E&P Indonesie masih bagus. Dan turunnya pasokan tidak sesuai dari prediksi awal, akhirnya workover jadi mendongkrak produksi dan kami membatalkan penutupan,” kata Salis di Jakarta, Selasa, 30 Agustus 2016.

"Bahkan kami optimis keempat train gas alam cair milik Badak akan terus beroperasi sampai akhir tahun, hingga tahun depan." tambah Salis.

Namun disisi lain Salis mengakui bahwa rata-rata produksi Kilang Bontang tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu. Pada akhir tahun kilang ini bisa menghasilkan sekitar 163 kargo gas atau sekitar 10 juta ton per tahun (mtpa). Padahal tahun lalu mencapai 182 kargo. "Sekarang konstan produksi di 1500-1600 mmscfd," kata dia.

Salis menuturkan saat ini LNG Badak juga akan mendapat pasokan dari lapangan Jangkrik di Blok Muara Bakau milik Eni Indonesia. Produksi gas dari lapangan tersebut diperkirakan mencapai 450 mmscfd. Ia berharap jika lapangan Jangkrik bisa diperecpat maka bisa memasok untuk empat train.

Berharap Suplai Dari Masela

Dalam rubrik Opini yang pernah ditulis Salis kepada PetroEnergy, Salis menyatakan bahwa belakangan ini, 5 train kilang Badak iddle. Bila ada pasokan gas dari Masela, maka kelima train tersebut dapat segera beroperasi. Bukan tidak mungkin bila bertahun-tahun train tersebut idle akan merusak train itu sendiri. Padahal membangun kelima train tersebut mengabiskan triliunan rupiah. Masak train tersebut dibiarkan teronggok, tak termanfaatkan.

Pertanyaaannya sejauh mana efisiensi transportasi, bila gas dari Block Masela diolah menjadi CNG dan dibawa melalui shipping atau jaur pipa? Beberapa tahun lalu, dilakukan pengkajian angkutan gas melalui shipping yang dilakukan LEMIGAS yang disponsori PLN, PNG, Tranako dan PT. Arpeni pada tahun 2004. Empat perusahaan ini pernah melakukan pengkajian angkutan LNG shipping. Risetnya dilakukan dengan asumsi pengakutan gas dari Martindok, Sulawesi dan Tangguh, Irian Jaya, untuk memenuhi kebutuhan gas di Jawa dengan target utama Bali. Hasil pengkajian tersebut, menemukan angka jual gas sampai ke Jawa sekitar US$ 9 per-MMBTU dengan harga jual gas pada saat itu.

Jika kita mengambil gas dari Irian Jaya dan Sulawesi, tidak mungkin pakai pipa, karena jaraknya yang keliwat jauh. Tinggal kita pilih saja mana yang lebih murah apakah memakai LNG atau CNG, jika jika angkutan gas tersebut melalui transportasi shipping.

Memang jika pasokan gas dari Kalimantan akan lebih efsisien jika menggunakan pipa jika dibandingkan melalui Shipping untuk pasokan gas di Jawa Tengah. Sebetulnya LEMIGAS sudah melakukan pengkajian mengenai transportasi gas di Indonesia. Hal ini tergantung dari beberapa factor. Kalau angkutan gasnya sangat jauh, maka lebih efisien menggunakan shipping. Jika tak terlalu jauh, lebih efisien menggunakan pipa. Sedangkan jika di perkotaan yang tidak dilengkapi oleh infrastruktur distribusi gas, maka solusinya adalah melalui mobile distribution.

Dari pengkajian ini, sudah dapat diperkirakan angkutan apa yang efektif bila memang Gas Masela akan diangkut ke kilang Badak, Bontang. Kemudian dari Bontang bisa didistrubsikan dengan menggunakan pipa ke Jawa. Dengan demikian Proyek transmisi pipa Kalimantan – Jawa dapat terealisasi, karena ada pasokan gas dari Block Masela.(adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category