Opinion

Kunjungan Raja Salman Bin Abdul Aziz Al Saud: Mensiasati Komitmen Investasi Supaya Terealisasi

img title

By: Yuniman T Nurdin*)

Setelah 47 tahun Raja Saudi Arabia tak mengunjungi Indonesia, kini Raja Salman Bin Abdul Aziz Al Saud berkunjung ke Indonesi pada 1 – 9 Maret 2017. Kunjungan tersebut merupakan kunjungan balasan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada 2015 lalu. Kunjungan Raja  tersebut merupakan kunjungan dengan jumlah rombongan terbesar, yaitu 1500 orang yang terdiri dari 10 Menteri, 25 Pangeran, Staf Kerajaan dan sejumlah pejabatan dan para pengusaha.

Boleh jadi kunjungan orang nomor Saudi Arabia itu dapat mempererat hubungan bilateral kedua negara. Dalam kunjungan kali ini, pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia  akan melakukan komitmen investasi senilai US$ 25 milyar.  Ini nilai komitmen investasi yang sangat besar dan bila terealisasi akan menggerakkan roda pembangunan yang cukup signifikan.

Memang angka investasi Arab Saudi selama ini sangat kecil. Selama 2011-2016, investasi Arab Saudi hanya US$ 34,3 juta atau 0,02 persen dari total investasi asing di Indonesia. Nilai investasi negara itu di Indonesia hanya berada di urutan ke-57. Sepanjang 2016 realisasi investasi Arab Saudi hanya US$ 900 ribu untuk 44 proyek. Angka itu jauh di bawah realisasi investasi negara Timur Tengah lainnya, seperti Kuwait, yang mencapai US$ 3,6 juta. 

Pertanyaannya apakah mungkin komitmen investasi sebesar US$ 25 milyar itu akan terealisasi? Apakah tidak terlalu cepat keputusan investasi Saudi Arabia itu tanpa mempertimbangkan variabel-variabel  dalam menilai daya tarik suatu investasi?

Kita tahu, dua tahun terakhir ini anggaran belanja Pemerintah Saudi Arabia mengalami defisit anggaran. Tahun anggaran 2015, misalnya, mengalami defisit sebesar 367 miliar riyal atau sekitar Rp 1.372 triliun. Jumlah itu setara 15 persen dari  Produk Domestik Bruto (PDB) Arab Saudi. Defisit anggaran Saudi berlanjut hingga tahun lalu, meski jumlahnya menciut menjadi sekitar Rp 1.305 triliun.

Perbaikan tersebut seiring dengan membaiknya harga minyak dunia dan kebijakan pemerintah memangkas belanja dan subsidi. Pemerintah memotong gaji pegawai negeri sipil, dan mengurangi subsidi energi.

Sejak dua tahun terakhir ini harga minyak mentah dunia mengalami penurunan. Bahkan awal tahun lalu harga minyak mentah dunia anjlok  di kisaran US$ 26-an perbarrel. Tergerusnya harga minyak dunia tersebut mempengaruhi sumber pendapatan negara. Apalagi sebagian besar pendapatan negara Saudi Arabia bersumber dari minyak mentah. Negara ini memproduksi minyak mencapai 10.000.000 per-day. Walaupun biaya produksi minyak di sana terendah di dunia, yaitu sebesar US$ 2 perbarrel.

Beberapa tahun terakhir ini pemerintah Saudi Arabia membuat visi ekonomi 2030, yaitu melakukan diversifikasi sumber pendapatan dari sektor non-minyak. Visi ekonomi 2030 itu merupakan  program jangka panjang Arab Saudi.  Menurut data resmi dari situs resmi Kementerian Komunikasi dan Informasi Teknologi Arab Saudi, program tersebut digencarkan untuk menciptakan ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Visi tersebut  bagi negara Arab dan Islam, sebagai kekuatan investasi, dan kekuatan perdagangan internasional yang menghubungkan Afrika, Asia dan Eropa. Ada empat poin yang akan digenjot Arab Saudi untuk mewujudkan visi tersebut, yaitu: Pertama, kesempatan kerja beragam untuk menggenjot ekonomi. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) hanya berkontribusi 20 persen dari produk domestik bruto (PDB) Arab Saudi. Padahal di negara maju, kontribusinya mencapai 70 persen. Arab berusaha memfasilitasi peningkatan akses pendanaan dan mendorong lembaga keuangan untuk mengalokasikan sampai 20 persen dari keseluruhan dana untuk UKM pada tahun 2030.

Kedua, salah satu yang akan dipacu adalah membuat zona khusus dan deregulasi pasar energi untuk membuat lebih kompetitif. Arab Saudi berusaha mengembangkan kerja sama perusahaan minyak raksasa milik negara, Saudi Aramco dengan negara-negara di Asia Pasifik.

Di mana Saudi Aramco berencana melepas sekitar 5 persen sahamnya ke publik, dengan prediksi raihan dana mencapai US$ 100 miliar atau berambisi menjadi initial public offering (IPO) terbesar di dunia sepanjang sejarah.

Ketiga, meskipun minyak dan gas merupakan pilar penting bagi perekonomian Arab Saudi, negara telah mulai memperluas investasi ke sektor lain. Dalam 25 tahun terakhir, perekonomian Saudi telah tumbuh dengan tingkat rata-rata tahunan lebih dari 4 persen, memberikan kontribusi bagi penciptaan jutaan lapangan kerja baru. Meskipun sudah berada di antara 20 ekonomi terbesar di dunia, Saudi ingin meningkatkan peringkatnya pada 2030.

Kempat, Arab Saudi berada tepat di persimpangan rute perdagangan internasional yang penting antara tiga benua: Asia, Eropa dan Afrika. Saudi ingin memaksimalkan manfaat dari posisi geografis tersebut dengan kemitraan strategis baru meningkatkan ekspor produk mereka.

Dalam visinya berusaha membangun kemitraan bisnis baru dan memfasilitasi aliran barang, orang, dan modal. Di antara prioritas utamanya adalah untuk membentengi dan memperluas interkonektivitas dan integrasi ekonomi dengan negara-negara lain Gulf Cooperation Council (GCC).  GCC aliansi politik dan ekonomi dari enam negara-Arab TimurTengahyaitu Saudi Arabia , Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Oman.

Arab Saudi berencana menyelesaikan proses penerapan pasar umum GCC, menyatukan bea cukai, kebijakan ekonomi dan hukum, dan membangun jalan serta kereta api jaringan bersama. Kerja sama secara efektif menghubungkan dengan negara-negara lain di kawasan, melalui layanan logistik dan meningkatkan proyek infrastruktur lintas-perbatasan baru, termasuk proyek transportasi darat dengan Afrika melalui Mesir.

Sementara parade kunjung Raja Salman ke beberapa Negara ASEAN, termasuk Indonesia merupakan langkah strategis untuk merealisikan visi ekonomi Saudi Arabia 2030. Dalam kunjungan tersebut – secara tidak langsung – melakukan road show dalam rangka menjajaki peluang investasi.

Di samping itu, Raja Salman juga – secara tidak langsung --  melihat respon Indonesia atas rencana perusaahan raksasa minyak Saudi Aramco melepas 5% sahamnya senilai US$ 100 milyar. Angka ini setara dengan nilai sekitar Rp. 1300-an triliun.

Selama ini investasi Arab Saudi lebih banyak pada penyertaan modal di pasar saham. Dari komitmen investasi yang baru terealisasi adalah rencana pembangunan kilang di Cilacap bekerjasama dengan Pertamina yang nilainnya sekitar US$ 6 milyar. Proyek peningkatan kapasitas dan kompleksitas (Refinery Development Master Plan/RDMP) dari 348 ribu barel per hari menjadi 400 ribu barel per hari dengan nilai US$  6 miliar. 

Dan sekitar US$ 1,5 milyar investasikan di sektor fund yang belum jelas sektor apa yang akan dimasuki. Mungkin dalam waktu dekat ini – paska kunjungan rombongan Raja Salman belum bisa mengharap banyak komitmen investasi tersebut akan terealisasi secepatnya. Diperlukan waktu lebih lanjut  – bagi investor Saudi Arabia – memahami daya tarik investasi di Indonesia.

Namun demikian, bagi Indonesia peluang tersebuh harus ditangkap. Bila Arab Saudi serius menjalin kerja sama ekonomi, pemerintah perlu menyiapkan diri. Tapi rencana investasi yang disebutkan dalam lawatan resmi belum tentu semuanya bisa direalisasi.

Di satu sisi, keberhasilan Indonesia dalam menciptakan iklim kondusif berdemokrasi, menjadi salah satu indikator mengapa  Saudi Arabia tertarik berinvestasi di sini. Tidak hanya itu, sejumlah paket ekonomi yang dikeluarkan pemerintah sejak 2015 lalu, menjadi mesin pendorong percepatan investasi di Indonesia. Sebut saja paket layanan cepat pemberian izin investasi dan pemangkasan prosedur investasi, menjadi stimulus yang mendorong investasi masuk ke Indonesia.

Beberapa insentif yang diberikan pemerintah, misalnya tidak memungut Pajak Pendapatan Nilai (PPN) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah N0. 69 tahun 2015 tentang Impor dan Penyerahan Alat Angkut Tertentu dan Penyerahan Jasa Kena Pajak, terkait angkutan tertentu tidak dikenai PPN.

Iklim investasi yang kondusif tersebut harus dijaga , jangan sampai terciderai oleh rumor-rumor politik yang bisa memecah belah bangsa ini. Bila kebinekaan bangsa ini bisa terjaga dan kepastian hukum bisa berjalan dengan baik, maka daya tarik investasi ke Indonesia bisa lebih menarik. Tak tercuali masuknya investasi dari Saudi Arabia. []

*)Wartawan PetroEnergy

 

 

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category