Other

Kemajuan Pertambangan Ditentukan Kebijakan Pemerintah

img title

Jakarta, petroenergy.id - "Tingkat perkembangan dan kemajuan pertambangan di suatu negara, bukan terutama ditentukan oleh potensi sumber daya alamnya, betapapun kayanya, melainkan lebih banyak bergantung pada kebijakan pemerintah yang berkuasa dalam menciptakan usaha yang diperlukan."

Itulah sederet kalimat yang pernah diucapkan Soetaryo Sigit dalam pidato pengukuhannya saat penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dari ITB tahun 1996. Kalimat itu diangkat kembali oleh sejumlah pembicara dalam acara Peluncuran dan Diskusi Buku Biografi Soetaryo Sigit berjudul "Membangun Pertambangan untuk Kemakmuran Indonesia" setebal  735 halaman, hari Senin (7/11/2016) di Adaro Institute, Gedung Tempo Scan, Jakarta.

Sejak masa itu, Soetaryo Sigit yang adalah Dirjen Pertambangan Umum sudah menyadari masa keemasan minyak bumi sebagai bahan bakar  akan berakhir. Ia pun mendengungkan ketika itu pentingnya segera melakukan diversifikasi penggunaan energi dari minyak bumi ke bahan bakar lain seperti batubara. Yang dituju oleh Soetaryo Sigit adalah penggunaan bahan bakar untuk pembangkit listrik.

Soetaryo Sigit jauh-jauh hari juga sudah memprediksi keruntuhan sektor pertambangan nasional, termasuk tumpang tindih lahan, persoalan pendapatan negara dari sektor pertambangan, hingga peraturan perundangan.

Prof. Dr. Subroto, mantan Menteri Pertambangan dan Energi (1978-1988) yang hadir dan menjadi pembicara utama dalam acara itu mengapresiasi pemikiran Soetaryo Sigit yang dicetuskan 20 tahun lalu namun tetap relevan dengan perkembangan dunia pertambangan nasional saat ini.

Bagi Soebroto, sektor pertambangan harus segera fokus menata diri, dan sebaiknya sudah dilakukan di periode 2017-2025. Apa sebab? Karena hingga kini pertambangan nasional masih fokus di seputar pemanfaatan sumber daya alam.  "Mari kita gunakan empat engine of growt (kapital, sumber daya manusia,  sumber daya alam, dan teknologi) secara bersamaan," ujar Soebroto.

Hal ini penting dilakukan, karena menurut Subroto, sektor pertambangan harus mampu segera berkontribusi terhadap peningkatan kemakmuran masyarakat Indonesia. "Dengan empat mesin bekerja, kita siap untuk tinggal landas menuju tahun 2045, menuju 100 tahun Indonesia merdeka. Di era itu harapan kita  kesejahteraan masyarakat Indonesia  tercapai sesuai dengan Pancasila. Disinilah  sektor pertambangan berperan penting," ujar pria 90 tahun yang juga dikenal sebagai mantan Sekjen OPEC ini.

Dalam dua setengah jam acara peluncuran dan diskusi berlangsung, isu yang mengemuka memang persoalan yang membelit sektor pertambangan umum. Persoalan-persoalan itu  beberapa di antaranya telah diprediksi oleh Soetaryo Sigit yang sangat dikenal dan dihormati oleh masyarakat pertambangan umum. Soetaryo Sigit wafat pada 2014 karena sakit.

Sejumlah pejabat hadir di acara tersebut, di antaranya Dirjen Mineral dan Batubara, Bambang Gatot Ariyono.(san)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category