Oil & Gas

Indonesia’s Oil and Gas Partnership Program Berlangsung 19-30 September 2016

img title

Jakarta, petroenergi.id - Dirjen Migas Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja di Jakarta, Senin (19/9), membuka  Indonesia’s Oil and Gas Partnership Program 2016 berlangsung tanggal 19-30 September 2016.

Indonesia’s Oil and Gas Partnership Program 2016 diikuti  peserta berjumlah 15 peserta dari 13  negara seperti Jordania, Myanmar dan Venezuela. Delegasi akan mengunjungi beberapa instansi terkait seperti SKK Migas, PT Pertamina, Medco, Kilang Cirebon, PT PAL Surabaya serta  PT Citra Tubindo di Batam.

Dalam sambutannya Dirjen Migas mengatakan, pada saat ini Indonesia tidak hanya sebagai produsen migas, melainkan kombinasi produsen dan konsumen. Produksi minyak yang terus menurun, menyebabkan Indonesia harus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Untuk meningkatkan ketahanan energi nasional, lanjut dia, Pemerintah meningkatkan eksplorasi migas, membangun infrastruktur, mengembangkan migas non konvensional, mengurangi subsidi BBM dan melakukan program diversifikasi energi.

Meski potensi energi Indonesia sangat beragam, namun ketergantungan pada energi fosil sangat tinggi. “Indonesia telah berpengalaman lebih dari 100 tahun dalam mengelola migas. Dari 314 WK yang aktif, 234 diantaranya dalam tahap eksplorasi dan 80 WK tahap produksi,” tambahnya.

Pada saat ini, produksi minyak Indonesia  mencapai 830.000 barel per hari dan 8.111 MMSCFD untuk gas bumi. Total cadangan minyak Indonesia sekitar 7,3 MMSTB dan gas bumi 151,33 TSCF. Untuk menarik investor di hulu migas, Pemerintah memberikan insentif fiskal serta memberlakukan kontrak jenis baru yang dapat dipilih oleh investor.

Di sisi hilir, kebutuhan bahan bakar meningkat seiring pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Untuk memenuhinya, Indonesia harus melakukan impor.

Indonesia juga mengembangkan infrastruktur seperti kilang minyak, tangki penyimpanan dan sarana transportasi di berbagai daerah di Indonesia. Kapasitas kilang minyak di Indonesia saat ini 1.157 MBCD dan tangki penyimpanan sebesar 7.561.207 KL.   “Indonesia berencana untuk mengembangkan lebih banyak infrastruktur BBM dalam sepuluh tahun  ke depan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” ungkap Wirat.

Dalam 10 tahun terakhir, lanjut Wirat, kebutuhan gas meningkat dua kali lipat. Untuk  memenuhi kebutuhan itu,  akan dibangun berbagai infrastruktur seperti regasifikasi. Pembangunan ini terutama dilakukan di Indonesia bagian Timur. “Infrastruktur yang ada masih kurang untuk mendukung pemenuhan kebutuhan. Oleh karena itu, Pemerintah berencana untuk mengembangkan lebih banyak infrastruktur sampai tahun 2030,” kata Wirat.

Mengakhiri sambutannya, Wirat mengharapkan agar kegiatan ini dapat berjalan lancar serta Delegasi juga dapat menikmati keindahan alam Indonesia. (mk)

 

 

 

ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category