Energy

Ignasius Jonan: Lakukan Efisiensi Dalam Produksi EBT

img title

Jakarta, petroenergy.id - Pemerintah akan terus mencari upaya terobosan untuk penyediaan dan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang efisien, seiring keinginan Presiden Joko Widodo untuk menjadikan harga energi efisien untuk rakyat.  

“Daya beli masyarakat terhadap listrik harus terjangkau. Itu yang paling penting,” tandas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, Rabu (21/12/2016) di Jakarta.

Untuk memperbaiki kondisi, menteri merasa perlu dilakukan gerakan peningkatan efisiensi dalam proses produksi EBT. “Semua EBT yang dikembangkan di Indonesia harus kompetitif dengan sumber energi yang tradisional (minyak, gas dan batubara),” ujar Jonan.

Menurut Jonan, EBT akan kompetitif apabila diproduksi menggunakan teknologi  tepat dan sesuai karakteristik wilayah. “Kita harus memanfaatkan potensi energi yang ada di masing-masing daerah. Kita negara kepulauan, tidak ada national grid seperti di Amerika Serikat,” tutur Menteri ESDM.

Jonan mengatakan, pemerintah sudah  membentuk Tim Gabungan beranggotakan wakil dari PLN, Pertamina, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbaruka dan Konservasi Energi (EBTKE), Ditjen Ketenagalistrikan, dan Tenaga Ahli Kementerian ESDM untuk menyusun rekomendasi kebijakan harga yang mendorong pemanfaatan EBT listrik on grid.  

“Pemerintah mendukung bauran energi. Energi baru dan terbarukan at the least cost, agar semakin kompetitif,” ujar Menteri ESDM.

RUEN

Sesuai Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), porsi bauran energi tahun 2025 untuk EBT ditargetkan  23 persen dan meningkat menjadi 45 GW pembangkit listrik berbasis EBT di tahun tersebut. Pilar utama untuk mewujudkan target tersebut melalui penganekaragaman energi dan konservasi energi.

Upaya peningkatan kapasitas pembangkit EBT, menurut Dirjen EBTKE, Kementerian ESDM, Rida  Mulyana,  terus dilakukan sepanjang tahun 2016, mencapai 15% dari keseluruhan kapasitas terpasang, atau sebesar 8,7 GW dari total 58 GW. Dalam 10 tahun ke depan, berdasarkan RUEN, Indonesia diproyeksikan membutuhkan kapasitas terpasang hingga 135 GW dengan 45 GW (33%) dari pembangkit EBT.

Penambahan kapasitas pembangkit listrik EBT antara lain didapat  dari Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP). Kapasitas terpasang PLTP hingga Desember 2016 sebesar 1.643,5 MW, sementara  tahun 2017 ditargetkan menjadi  1.858,5 MW.

Juga dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan kapasitas total 282,55 MW di tahun 2016. Ditargetkan tahun 2017 total keduanya meningkat menjadi 291,71 MW.

Adapun kapasitas terpasang pembangkit listrik bioenergi pada 2015 sebesar 1.767,1 MW dan meningkat sebesar 20,8 MW di 2016 dengan kapasitas total terpasang sebesar 1.787,9 MW. Kementerian ESDM menargetkan kapasitas total terpasang pembangkit bioenergi di 2017 mencapai 2.093 MW atau bertambah 305,1 MW.

Diinfokan pula, pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) tahun 2016 mencapai 3,3 juta kilo liter (KL), meningkat 152% dari tahun 2015 yang sebesar 0,91 juta KL. Tahun 2017, pemanfaatan BBN ditargetkan 4,6 juta KL.

Investasi EBT akan terus menjadi prioritas pemerintah, di antaranya dengan meningkatkan target investasi di 2017 menjadi US$1,56 miliar. Dengan begitu, pemanfaatan EBT akan bertambah, dan  berdampak pada peningkatan kualitas udara bersih. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.

Berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo saat mengikuti Conference of Parties (COP) ke-21 tahun 2015 di Paris dan hasil COP ke-22 di Maroko, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% (BAU) tahun 2030 dengan upaya sendiri, dan ditingkatkan menjadi 41% dengan bantuan internasional. Hingga akhir 2016, penurunan emisi CO2 telah berhasil dilakukan Indonesia sebesar 39,3 juta ton. Target 2017, emisi CO2 akan diturunkan sebesar 45,1 juta ton. (san)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category