Other

Harga Batubara Melambung, Sampai Kapan?

img title

Jakarta, Petroenergy.id--Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA) belum dapat memastikan melambungnya harga batubara belakangan ini akan bertahan dalam waktu lama. Harga sangat labil dan salah satu faktor pemicu pergerakan harga batubara adalah kebijakan pemerintah Cina terhadap industri batubaranya.

Menjawab PetroEnergy di kantor APBI-ICMA, Jakarta, Kamis (10/11/2016), Direktur Eksekutif APBI-ICMA,  Supriatna Suhala, terus terang mengaku sulit memprediksi harga batubara dalam beberapa waktu ke depan. “Beberapa anggota kami menanyakan hal tersebut, tapi kami cukup sulit untuk memberikan gambaran secara pasti,” ujarnya.

Agar asosiasi beranggotakan 86 perusahaan batubara dan 65 perusahaan jasa pertambangan ini bisa lebih memberikan pelayanan kepada anggotanya, menurut Supriatna, pihaknya akan menghadirkan seorang analis sebagai pekerja di asosiasi tersebut.

Masih menyoal harga batubara, Supriatna mengatakan bahwa tren kenaikan harga batubara saat ini bukan lantaran meningkatnya permintaan. “Kalaupun ada, jumlahnya kecil. Kenaikan itu diimbangi dengan menurunnya permintaan karena beberapa negara beralih ke gas. Amerika Serikat beralih ke shale gas. Jepang dan Korea cenderung turun (penggunaan batubara),” ujarnya.

Lalu, kenapa harga naik. “Itu karena long term harga yang melemah sejak 2011,“ ujar Supriatna menambahkan. Namun, ia tidak mengenyampingkan soal yang satu ini. “Batubara susah di pasar, harga naik,” ujar Supriatna mencoba lebih memastikan penyebab kenaikan harga.

Supriatna mengingatkan bahwa tren kenaikan harga bisa tertahan, atau bahkan melemah kembali, karena pada 1 Desember ini pemerintah Cina akan mencabut kebijakan pengurangan jam kerja di industri batubara nasionalnya menjadi normal kembali. Artinya, bisa jadi pasar akan kembali dibanjiri oleh batubara.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu pemerintah Cina mengeluarkan kebijakan mengurangi jam kerja untuk seluruh industri pertambangan batubara menjadi 270 jam dari sebelumnya 330 jam per bulan. Produksi batubara negara itu menjadi turun. Kebijakan ini menjadi salah satu pendongkrak kenaikan harga batubara dunia belakangan ini.

Mengutip Asosiasi Batubara Nasional Cina, diketahui bahwa negeri tirai bambu itu telah memotong sekitar 560 juta ton kapasitas produksi batubara dan menutup 7.250 tambang batubara selama lima tahun terakhir. Namun, negara ini masih memiliki sekitar 11.000 tambang batubara yang beroperasi pada akhir 2015, dengan total kapasitas 5,7 miliar ton. Sekitar 1.000 perusahaan di antaranya memiliki kapasitas produksi tahunan di atas 1,2 juta ton.

Harga batubara saat ini memang lagi kinclong, bertengger cukup tinggi, hingga menyentuh level US$109 per ton. Sebelumnya angka US$53 per ton pernah menjadi harga terendah. “Ada kenaikan sekitar 100 persen. Apakah harga ini akan naik terus, atau bertahan lama, sulit untuk memprediksinya. Kebijakan menormalkan kembali jam kerja di sektor batubara di Cina bisa  saja menahan pergerakan harga yang cukup bagus saat ini,” ujar Supriatna. (san)

 

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category