Energy

Halim Kalla: Pengusaha Minta Pemerintah Optimalkan Pemanfaatan EBT

img title

Jakarta, petroenergy.id - Pengusaha yang bergerak di bidang energy baru dan terbarukan (EBT) meminta kepada pemerintah mengoptimalkan penggunaan BBT  di dalam negeri, agar tercipta efisiensi penggunaan subsidi negara yang dikucurkan pada sektor bahan bakar minyak (BBM).

Hal itu dikemukakan  Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin Indonesia) Bidang Energi Terbarukan, Halim Kalla, di Jakarta, Minggu (31/7).

“Efektifitas penghematan subsidi bahan bakar minyak (BBM) harus diwujudkan dengan optimalisasi penggunaan energi baru dan terbarukan. Khususnya dengan Menteri ESDM yang baru Archandra Tahar,” kata Halim Kalla.

Menurutnya, penggunaan EBT diyakini mampu meningkatkan penerimaan negara, sekaligus penghematannya bisa digunakan untuk berbagai program prioritas pemerintah, seperti pengembangan pemanfaatan EBT dengan program konversi minyak tanah ke gas.

Selain itu, dikatakan Halim, pemerintah juga diminta untuk mendorong masyarakat menggunakan energi baru dan terbarukan sebagai bahan bakar alternatif. Untuk itu, insentif menarik wajib diberikan kepada masyarakat pengguna EBT dan juga bagi investor yang ingin berinvestasi sektor EBT di dalam negeri.

“Agar masyarakat mau menggunakan EBT juga investor tertarik untuk mengembangkan sektor EBT di Indonesia. Sebab ada hal menarik yang menjadi daya pikat untuk berinvestasi,” ujar Halim Kalla.

Apalagi, katanya, Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan konsumsi energi terbesar di dunia, mencapai 7 persen per tahun. Sementara itu, produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan rata-rata 2,1 persen per tahun periode 1992-2013. Dan kini laju penurunannya semakin tajam, sehingga mendorong pemerintah untuk mengalokasikan subsidi energi.

Dengan kata lain, pemerintah harus segera mempercepat pembangunan dan mendukung investasi di sektor EBT. Misalnya, dengan memberikan insentif menarik, dukungan regulasi yang berpihak pada investasi tersebut, dan juga fasilitas fiskal memadai. Mengingat nilai investasi sektor EBT sangat besar.

Saat ini Indonesia memiliki potensi EBT mencapai 176,01 Gigawatt. Angka itu terdiri dari energi bayu sebesar 950 Megawatt, tenaga surya 11 Gigawatt, tenaga air 75 Gigawatt, energi biomasa 32 Megawatt, biofuel 32 Megawatt, energi laut 60 Gigawatt dan panas bumi 29 Gigawatt.

Disamping itu, potensi shale gas di Indonesia juga mencapai angka fantastis. Sebab berdasarkan data American Association of Petroleum Geologists dan Badan Informasi Energi AS, potensi shale gas di Indonesia mencapai 574 triliun kaki kubik (TCF). Sebagai gambaran, satu TCF shale gas bisa menghasilkan 100 miliar kWh listrik dan menghidupkan 12 juta unit kendaraan berbahan bakar gas setahun. (mk)

 

 

 

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category