Global

Greenpeace Klaim Pengembangan PLTU Di Dunia Menurun 62%

img title

Jakarta, petroenergy.id — Jumlah PLTU Batubara yang sedang dikembangkan di seluruh dunia menyusut secara dramatis di tahun ini akibat perubahan kebijakan energi di berbagai negara di Asia. Demikian hasil pemantauan Greenpeace, the Sierra Club dan Coal Swam yang diuraikan dalam laporan yang berjudul Boom and Bust 2017: Memantau Perkembangan PLTU Batubara Secara Global.

Laporan tersebut merupakan survei tahunan ketiga atas perkembangan proyek-proyek PLTU Batubara di seluruh negara di dunia, baik yang sudah beroperasi maupun berada dalam tahap perencanaan dan pengembangan. Temuan utama dalam laporan tersebut termasuk adanya penurunan kegiatan pra konstruksi sebanyak 48 persen, turunnya jumlah proyek yang memulai konstruksi sebanyak 62 persen serta turunnya jumlah ijin yang diterbitkan bagi PLTU Batubara di Cina.

Kendati demikian, Indonesia melawan arus global dengan terus mengandalkan pengembangan PLTU Batubara sebagai sumber utama energi kelistrikan. Sebanyak 38.450 MW berada dalam fase pengembangan pra konstruksi dan sebanyak 25.440 MW sudah memasuki tahap Pengumuman dan tahap pembangunan awal.

"Cina sudah menghentikan proyek-proyek PLTU batubaranya setelah mengalami pertumbuhan energi terbarukan yang sangat pesat. Artinya kebutuhan listrik baru di Cina akan terus dipenuhi oleh sumber-sumber di luar bahan bakar fosil. Hal ini akan menyumbang terhadap penurunan emisi global yang sudah terjadi berkat penutupan berbagai PLTU Batubara lama di Amerika Serikat dan Eropa. Jelas tren global menunjukkan bahwa dunia mulai meninggalkan energi dari batubara Indonesia seharusnya mengikuti tren tersebut dan mendorong pengembangan energi masa depan, yaitu energi terbarukan."

Berbagai alasan yang disinyalir mendasari anjloknya pengembangan PLTU Batubara meliputi perubahan kebijakan di Cina, dimana pemerintah pusat secara sengaja menghentikan proyek-proyek PLTU Batubara baru. Selain itu muncul hambatan finansial bagi proyek-proyek PLTU Batubara baru di India. Akibatnya, lebih dari 100 proyek telah dibekukan di Cina dan India.

Selain penurunan tersebut, laporan ini juga menemukan bahwa sebanyak 64 gigawatt kapasitas PLTU yang telah dipensiunkan dalam 2 tahun terakhir, angka yang memecahkan rekor sebelumnya, khususnya di Uni Eropa dan Amerika Serikat - setara dengan 120 unit pembangkit besar.

Menurut laporan tersebut, kombinasi akan lambatnya pelaksanaan rencana pembangunan PLTU batubara dengan peningkatkan pemensiunan PLTU yang mencapai akhir usianya membangkitkan harapan baru akan upaya mitigasi perubahan iklim global. Kini target untuk menahan laju pemanasan global agar tidak mencapai 2 derajat Celcius di atas rata-rata suhu global setelah masa industrialisasi menjadi terjangkau, asalkan negara-negara di dunia sepakat untuk melakukan gebrakan lebih untuk mengurangi penggunaan batubara sebagai sumber energi.

"Tahun kami melihat perkembangan yang tidak lazim," ujar Ted Nace, Direktur jaringan kajian CoalSwarm. "Tidak lazim untuk melihat begitu banyaknya konstruksi yang dibekukan, tetapi pemerintah pusat Cina dan sektor keuangan India telah sadar akan risiko besar akan surplus kapasitas listrik dari PLTU Batubara. Mereka sadar betul bahwa hal ini akan menyebabkan pemborosan besar. Perubahan mendadak ini akan mendorong perubahan positif bagi ketahanan iklim, kesehatan dan pekerjaan. Dan sepertinya perubahan ini akan terus bergulir dan tidak dapat dihentikan."

"Penurunan drastis akan jumlah PLTU Batubara di seluruh dunia ini merupakan cerminan kesadaran global akan dampak buruknya batubara," ujar Pius Ginting, pengamat dan penggerak energi. "Sudah terbukti bahwa PLTU Batubara membawa dampak buruk bagi kesehatan, lingkungan hidup, sosial dan perekonomian setempat. Dan kini pasar dunia juga menyadari bahwa batubara bukan merupakan bisnis yang menguntungkan. Pasar dunia jelas menginginkan energi bersih; Arus perubahan telah melanda dunia dan Indonesia sebaiknya segera ikut arus tersebut."

Laporan menggarisbawhi bahwa Jepang. Korea Selatan, Indonesia, Vietnam dan Turki merupakan negara-negara yang gagal mengembangkan sektor energi terbarukan mereka dan tidak sejalan dengan negara-negara lain di seluruh dunia karena terus merencanakan dan membangun pembangkit listrik berbasis batubara dengan emisi polutan yang sangat tinggi. (adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category