Maritime

Garda Terdepan Menjaga Laut Dari Aksi Ilegal

img title

Jakarta, petroenergy.id -- TNI Angkatan Laut (AL) dalam hal ini Koarmabar (Komando Armada RI Kawasan Barat )bersama semua jajarannya antara lain Guspurla Koarmabar, Guskamla Koarmabar, dan WFQR-1, WFQR-2, WFQR-3, WFQR-4 dan WFQR-12 yang berada di bawah jajaran Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal), menyatakan serius dalam melaksanakan penegakan hukum terhadap semua kegiatan-kegiatan ilegal di laut Indonesia.

Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat  (Pangarmabar), Laksamana Muda TNI Aan Kurnia, S.Sos., menyatakan bahwa peran TNI AL di laut tak hanya sebagai alat pertahanan Negara. Tapi TNI AL juga ditugaskan menjaga keamanan laut baik itu yang diatas permukaan laut ataupun yang dibawahnya.

“Kami bagian dari keamanan juga. Namun konsep pengamanan laut dan  kepulauan Indonesia ini tidak seperti memagari rumah. Jadi semua pihak harus bisa koordinasi karena TNI Angkatan Laut tidak bisa bergerak sendiri, Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak bisa bergerak sendiri, Polisi Air juga tidak bisa bergerak sendiri,” katanya kepada petroenergy dalam wawanacara khsusus belum lama ini di Kantornya di Jakarta.

Untuk itu, selain menggelar operasi bersama yang terkoordinir, pihaknya juga menekankan adanya komunikasi lintas sektor. Lalu untuk mengoptimalkan operasi, maka perlu ditempatkan kekuatan di daerah-daerah yang dinilai rawan. 

Ketika ditanya tadanya beberapa proyek migas di offshore Kepulauan Natuna yang memerlukan perhatian khusus, Panglima menyatakan, bahwa pihaknya selalu siap dan waspada menjaga semua asset-aset yang terkait energi di lautan Indonesia.

 “Tugas saya selaku Panglima Komando Armada Barat adalah mengamankan semua perairan dari Aceh sampai ke Cirebon dan ke atasnya lagi sampai ke Pontianak. Disini banyak terdapat lalu lintas perdagangan dan juga aset energi nasional. Kita komitmen tegas menjaga semua ini,” ujarnya.

Angkatan Laut telah menyiapkan armada siaga dan beberapa satuan-satuan kecil. Sedangkan di Armada Kawasan Barat ada Western fleet Quick Response (WFQR) yang ada di setiap Lantamal. Lalu setiap Lantamal ini  ada Western fleet  Quick Response. “Ini armada gerak cepat yang akan menindak setiap aksi illegal dilaut,” tandasnya.

Sepak Terjang

Pangarmabar menjelaskan tindak pidana illegal yang kerap terjadi dilaut diantaranya adalah pencurian ikan, pencurian sumber daya alam bawah laut, perdagangan manusia, perompakan kapal-kapal tanker, kapal berlayar tanpa dilengkapi dengan dokumen yang sah serta pelanggaran lainnya.

Ditambahkannya, selama periode bulan September hingga Oktober tahun 2016, Koarmabar telah melaksanakan pemeriksaan lebih dari 150 kapal dari berbagai jenis di wilayah perairan barat Indonesia. Dari jumlah tersebut setelah diadakan pendalaman, ada 21 kapal yang harus ditindak lanjuti untuk diproses hukum di pengadilan.

Sebagai bukti komitmen, Koarmabar tahun lalu pernah menangkap kapal Tanker Zamidah yang bermuatan kurang lebih 400 ton minyak tanpa dokumen dari Indonesia menuju ke malaysia, kapal isap pasir timah ilegal, 8 kapal ikan asing berbendera Vietnam di Laut Natuna dan kapal Malaysia di Perairan Pontianak.

Kemudian, belum lama ini Koarmabar berhasil menangkap dan mengamankan Kapal asing berbendera China yang diduga melakukan eksplorasi bawah air ilegal di perairan Anambas, Tarempa, Natuna, Kamis (20/4).  Kapal ini mencuri besi dan tembaga campuran dari bawah laut dengan berat kurang lebih 1000 ton.

Kapal bernama Chuan Hong 68 berbobot kurang lebih 8352 GT tersebut ditangkap oleh Tim Western Fleet Quick Response (WFQR)-4 Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Tarempa di sebelah barat Pos Angkatan Laut (Posal) Jemaja, Letung, kurang lebih berjarak 45 mil. Kapal ini berawak 20 orang terdiri dari 16 WNA China, 3 WNA India dan 1 WNA Malaysia.

Kapal juga tidak dilengkapi dokumen resmi dari pemerintah RI, dalam hal ini Kemenhub dan Kementrian KKP untuk eksplorasi bawah air dengan dugaan pengambilan barang-barang berharga dibawah air/ BMKT dan pengangkatan kerangka kapal.

 Selain itu, kapal beserta ABK tidak dilengkapi oleh dokumen yang sah, kapal tidak mengibarkan bendera Indonesia saat bekerja di wilayah perairan Indonesia dan nakhoda tidak ada diatas kapal. Berdasarkan pelanggaran tersebut, Tim WFQR-4 Lanal Tarempa mengambil tindakan tegas dengan mengamankan dan menghentikan kegiatan operasional kapal tersebut serta mengamankan ABK-nya dan dikawal menuju Posal Letung, Lanal Tarempa.

Kemudian pernah Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) 4 Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) IV Tanjungpinang bekerjasama dengan Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmabar berhasil menangkap kapal MT Angeline 2, di perairan utara Lagoi Pulau Bintan Kepulauan Riau, Kamis (1/9).

Kapal MT Angeline 2 merupakan target operasi dari Tim WFQR 4, kapal tersebut diduga terlibat kasus penyalahgunaan BBM illegal bersama dengan kapal MT Vier Harmoni yang terlebih dahulu diamankan dan beberapa lagi akan menjadi target operasi dari Tim WFQR 4.

Disini tim WFQR 4 akan membongkar sindikat internasional BBM illegal yang telah merugikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari hasil interogasi awal, didapat keterangan bahwa kapal MT Angeline 2 berlayar dari Kuantan menuju East OPL dengan muatan BBM 300 ton yang tidak dilengkapi dokumen, berlayar tanpa nakhoda dan tidak memiliki Jurnal Log Book Proses penangkapan kapal MT Angeline 2 bermula dari pengembangan kasus kapal MT. Vier Harmoni, dimana tim gabungan mendapatkan informasi dari hasil tracking terhadap alat komunikasi yang digunakan oleh salah satu crew MT Angeline 2.

Akhirnya tim WFQR 4 menindaklanjuti dengan menggerakkan unsur Kapal Patroli Keamanan Laut (Patkamla) Lobam yang saat itu berada di Posal Lagoi untuk memeriksa sektor pesisir Lagoi.  Tim WFQR 4 juga melakukan koordinasi dengan Guskamla Koarmabar yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan menggerakkan KRI Siribua-859 dan KRI Alamang-644 untuk melakukan patroli guna memeriksa sektor yang dekat dengan Traffic Separation Scheme (TSS). Dari hasil penyisiran pada pukul 16.50 WIB, KRI Alamang -644 dengan komandan KRI Mayor Laut (P) Ferry Hutagalung berhasil mendeteksi keberadaan MT Angeline 2 yang sedang berjalan pelan, untuk selanjutnya dilakukan pengamanan terhadap target. (adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category