Energy

Ditjen Migas Akan Seminarkan ‘Migas Non Konvensional’

img title

Jakarta, petroenergy.id  - Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas, Tunggal, mengatakan, Ditjen Migas akan menyelenggarakan seminar Migas Non Konvensional. Seminar dimaksudkan sebagai sarana diskusi untuk memperoleh masukan dari pelaku bisnis dan mencari terobosan untuk menyikapi pengembangan migas non konvensional yang ada saat ini.

“Output dari seminar yang diharapkan adalah munculnya solusi baik ide dan gagaran untuk memecahkan berbagai hambatan dalam pengembangan migas non konvensional,” kata Tunggal di Jakarta, Rabu (16/11).

Dijelaskannya, seminar dengan tema “Masa Depan Migas Non Konvensional Indonesia” berlangsung  di Hotel Savoy Homann, Bandung, Jumat (18/11) mendatang.  Seminar  ini rencananya akan dihadiri oleh Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, Dirjen Migas IGN Wiratmaja Puja, unsur dari SKK Migas dan stakeholder.

Migas  non konvensional di Indonesia cukup menjanjikan, di mana cadangan shale gas sebesar 574,07 TCF dan CBM 453,3 TCF. Pengembangan migas non konvensional memiliki karakteristik yang berbeda dengan konvensional di mana  keberhasilan eksplorasi menjadi salah satu kunci sukses utama.

Terkait cadangan Migas non konvensioanl isu utamanya adalah apakah cukup ekonomis memproduksikan akumulasi lapisan tersebut. Aplikasi teknologi perekahan (fracturing) dan pemboran horizontal yang umum digunakan pada sumur migas konvensional merupakan terobosan dalam rangka memproduksikan akumulasi migas non konvensional.

Amerika Serikat (AS) sejak tahun 2006 telah berhasil mengembangkan migas non konvensional, di mana produksi shale gas meningkat luar biasa yang berakibat pada turunnya harga gas. Sementara, untuk minyak non konvensional, tambahan pasokan berasal dari shale/tight oil di Amerika Serikat dan oil sand/tar sand di Kanada. Keberhasilan ini membuat kedua negara tersebut diperkirakan menjadi salah satu dari 5 besar produsen minyak dunia.

Secara umum, migas non konvensional memerlukan pembiayaan yang tinggi karena memerlukan jumlah sumur yang banyak. Tantangan terhadap teknologi pengembangan migas non konvensional juga masih banyak, terutama dengan karakteristik lapangan yang berbeda-beda.

Di sisi lain, untuk mendorong pengembangan migas non konvensional,  Pemerintah telah mengeluarkan Permen ESDM Nomor 38 Tahun 2015 tentang Percepatan Pengusahaan Migas Non Konvensional. 

Permen ini bertujuan memberikan kesempatan pada kontraktor migas non konvensional yang benar-benar berniat mengembangkan lapangannya dengan memberikan kemudahan. (mk)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category