Global

Dibalik Melambungnya Harga Batubara Global

img title

Jakarta, petroenergy.id -  Langkah pemangkasan produksi batubara yang dilakukan China menjadi pendorong  utama terdongkraknya harga sepanjang tahun lalu. Pada periode Januari - November 2016 dilaporkan produksi batubara China turun 10% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Ternyata,  melemahnya produksi juga terjadi di Amerika Serikat. International Energy Agency (IEA) memprediksi produksi batubara AS di 2016 lalu akan turun ke level 758,4 juta ton dan merupakan level terendahnya sejak 1978.

"Jadi wajar saja harga melambung dan bahkan batubara menjadi komoditas energi dengan performa paling kinclong tahun ini," ujar Analis Central Capital Futures, Wahyu Tri Wibowo, seperti diberitakan beberapa media.

Dampak dari situasi  itu, harga batubara sempat  menyentuh level tertingginya sejak April 2013 lalu di angka US$ 104,60 per metrik ton pada awal November tahun lalu. Hampir berbarengan dengan itu,,  China Coal Energy melaporkan produksi batubara China pada September 2016 turun 12% dengan stok bulan yang sama turun 14%.

Secara fundamental, tekanan terhadap harga global batubara masih saja ada  dari sejumlah negara maju untuk mengurangi penggunaan batubaranya. Konidisi ini yang juga menjadi penyebab  mengapa kenaikan harga batubara cenderung terbatas. “Dan gagal menembus level US$ 100 per metrik ton lagi," tutur Wahyu.

Beruntung kenaikan harga minyak mentah turut memberi sentimen positif bagi harga batubara di penghujung tahun ini. "Apalagi batubara termasuk komoditas yang tidak banyak terkena imbas keunggulan USD," ujar Wahyu.

Kebutuhan China tetap tinggi

Sementara itu, Deddy Yusuf Siregar, analis PT Asia Tradepoin Futures  mengatakan meski pemerintah China telah memerintahkan 11 provinsinya untuk menghentikan lebih dari 100 proyek pembangkit listrik tenaga batubara, tetapi kebutuhan domestik China tetap tinggi.

“Kalau dihubungkan kenapa China menutup tambang batubara itu lebih karena alasan lingkungan. Tingkat polusi mereka cukup tinggi,” ujar Deddy. Saat ini,  China tampak berambisi menjadi negara pertama pengguna energi alternatif sebagai pembangkit listrik. Namun untuk mewujukannya memerlukan waktu  lama. Pasalnya, tidak  semua pembangkit listrik di China siap mengakomodir perubahan kebijakan tersebut.

Deddy optimis impor batubara China di  2017  tetap tinggi. Tahun 2016, impor batubara China menningkat hingga 25% ke level 256 juta metrik ton, dan menjadi impor batubara paling besar sejak 2012.

Deddy mengakui bahwa penggunaan gas alam sebagai bahan baku pembangkit listrik di AS yang jauh mendominasi batubara juga ikut mengganjal laju harga batubara. Namun, Deddy tidak begitu risau sebab  permintaan batubara kawasan Asia cukup tinggi. Kebutuhan batubara Filiphina, Korea dan Jepang  cukup tinggi. “Itu bisa menjadi sentimen positif,” ujarnya. (san*)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category