Company

Dari Rekanan Hingga Produsen Listrik

img title

Berawal dari sebuah perusahaan rekanan, PT Astra International Tbk telah menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Fenomena grup yang mempunyai 202 perusahaan ini bertumbuh dan kini jangkauan diversifikasi usahanya menyentuh juga sektor ketenagalistrikan.

Sebut saja sektor otomotif, jasa keuangan, alat berat dan pertambangan, agribisnis, infrastruktur, logistik, teknologi informasi, semua ada di bisnis grup perusahaan yang didukung oleh 213.175 karyawan ini.

Bukan hanya mampu bertumbuh. Astra juga berhasil meraih sejumlah penghargaan. Belakangan perusahaan merebut Gelar Best Company sebagai “FinanceAsia 20th Anniversary Platinum Awards 2016” dari majalah FinanceAsia, Hongkong. Penghargaan serupa pernah mampir di Grup perusahaan besar seperti Samsung Electronics, China Telecom, PTT Thailand dan Singtel.

Kunci keberhasilan ini, kata Presiden Direktur PT Astra Internasional Prijono Sugiarto, karena Astra menerapkan filosofi ‘Catur Dharma’ dan strategi Triple P Roadmap meliputi Portfolio Roadmap, People Roadmap dan Public Contribution Roadmap. Strategi ini diterapkan agar perusahaan mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.

“Astra selalu bersemangat ingin terus berkontribusi di bidang ekonomi dan sosial bagi bangsa Indonesia,” katanya ketika menerima penghargaan di Hongkong, 13 Oktober 2016.

Namun tidak banyak yang mengetahui, sebelum dikenal luas, ditahun 1957 sebenarnya Astra memulai usahanya sebagai perusahaan ekspor impor dengan konsentrasi penjualan berupa  limun, minyak sereh, kenanga, dan beberapa lainnya.

“Dalam sejarahnya Astra memang memulai dari bisnis tersebut. Dulu kantornya cukup sederhana di Ruko (Rumah Toko) di Jalan Biak, Jakarta Pusat. Sekarang, anda bisa bayangkan diversifikasi bisnisnya hingga menjadi salah satu leading industri Indonesia,” kata General Manager Head of Public Relation Division Corporate Communications PT Astra International Tbk Yulian Warman kepada PetroEnergy.

Di sela acara Astra Gema Islami, 25 Juli 2016, di kantor Pusat Astra, Jakarta, Yulian Warnan lebih jauh menjelaskan, bahwa titik awal perkembangan perusahaan terjadi sesaat setelah memenangkan kontrak yang diadakan PTPLN (Perusahaan Listrik Negara) dan Departemen Pekerjaan Umum untuk mendatangkan genset dari Amerika Serikat senilai USD 8 Juta untuk Proyek Bendungan Jatiluhur di Jawa Barat.

Tapi dalam proses impor genset ini terjadi kesalahan sehingga L.C yang telah dibuka harus dipergunakan untuk mengimpor barang lain. Sebagai gantinya, Astra memutuskan mengimpor 800 unit truk Chervrolet dari General Motors dalam bentuk semi knock down. Alhasil inilah awal Astra terjun di bidang otomotif.

Menanggapi hal ini, Ketua IAPI (Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia) Khairul Rizal menyatakan, bahwa transformasi bisnis Grup Astra dari sebelumnya rekanan hingga berkembang saat ini menjadi produsen dengan berbagai diversifikasi sektor usaha, harus menjadi contoh semua pebisnis di Indonesia.

“Negeri ini butuh Astra-Astra yang lain. Sebab di Indonesia masih sedikit perusahaan yang bisa berkembang dan bertahan seperti Astra. Berbeda dengan Cina, Korea Selatan dan Jepang yang banyak perusahaannya berkembang dari kecil hingga menjadi sangat besar dan mampu berkompetisi di pasar global,” kata Khairul kepada PetroEnergy di Jakarta, 18 September 2016.

“Kalau bisa ya semua Perusahaan yang awalnya kecil dan menengah di Indonesia bisa mengikuti jejak Astra itu,” tandas Khairul.

Ikut Proyek 35.000 MW

Direktur PT Astra International Tbk, Djoko Pranoto kepada media usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Senin 27 April 2016, mengatakan bahwa Astra akan memperluas bisnisnya ke sektor ketenagalistrikan dan tak mau ketinggalan berperan dalam proyek listrik 35.000 mega watt (MW).

 "Kami lihat proyek pembangkit listrik 35.000 MW adalah sebuah peluang. Peluang kami besar disini. Dua anak perusahaan akan ditugaskan untuk ini yaitu PT Pama Persada dan PT United Tractor,” tegasnya. 

Saat ini Pama Persada sudah mendirikan PT Energia Prima Nusantara (EPN) untuk bergerak disektor pembangkit listrik. Dengan memanfaatkan tambang milik Pama Group di Kalimantan Tenggara, PT EPN bertujuan meminimalisasi pemakainan diesel fuel melalui pemanfaataan batubara yang ada. PT EPN juga menjadi core working team sebagai project development support yang membantu United Tractor dalam Proyek JAWA-4 (2x1000 MW).

Saat ini PT United Tractor sedang menjajaki proyek PLTU (Pembangkit ListrikTenaga Uap) Tanjung Jati B Unit 5 dan 6, di Jepara. Disini United Tractor akan bekerja sama dengan Sumitomo Corporation dan Kansai Electric Power Co, Inc. Kerjasama ini juga untuk mengoperasikan dan memelihara dua unit pembangkit listrik tersebut dan memasok listrik ke PLN untuk periode 25 tahun.

Proyek Tanjung Jati 5 memiliki kapasitas masing-masing 1.000 MW diperkirakan membutuhkan tenaga batubara sebanyak 7 juta ton per tahun. Direncanakan pembangkit listrik ini beroperasi pada 2019.

Ari setyawan, Investor Relation PT United Tractor Tbk , pada 13 Juni 2016 kepada PetroEnergy di Jakarta, menyatakan;  “Di sektor listrik ini United Tractor memang akan ekspansi untuk menunjang diversivikasi usahanya. Pengembangan ini bisa ditunjang karena United Tractor sudah memiliki inti bisnis yaitu kendaraan alat berat dan tambang batu bara. Beberapa PLTU akan dikomersialkan. Namun ada juga yang hanya untuk mensuplai listrik bagi kepentingan tambang sendiri. Kalau ada lebih kita jual ke PLN listriknya," tambahnya.

Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal ILMATE (Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika), Kementerian Perindustrian, Putu Suryawan menyatakan, bahwa ketertarikan dan kesiapan Astra untuk proyek listrik 35.000 MW akan membantu mensukseskan program-program Pemerintah.

“Saya mengapresiasi rencana perluasan strategi bisnis  PT Astra International Tbk sebagai salah satu produsen listrik di Indonesia atau Independent Power Producer(IPP). Sebab memang kita butuh swasta banyak bergerak disaat isu ekonomi dunia yang melambat seperti ini,” kata Putu kepada PetroEnergy di Jakarta ,10 Oktober 2016.

Diversifikasi bisnis Astra tersebut , katanya, merupakan salah satu cerminan keberhasilan kebijakan korporasi PT Astra International Tbk dalam mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM). Hasilnya,  Astra dapat berkompetisi selain di sektor otomotif dan bisnis lainnya.

“Hal ini juga sejalan dengan visi PT Astra International Tbk menjadi salah satu perusahaan dengan pengelolaan terbaik di Asia Pasifik dengan penekanan pada pertumbuhan berkelanjutan, pembangunan kompetensi melalui pengembangan SDM, struktur keuangan yang solid serta kepuasan pelanggan dan efisiensi,” tambah Putu.

Pemilik PT Navigat Innovative Indonesia (NII) dan juga Pengurus MKI (Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia) Sri Andini mengakui, tren saat ini bagi berbagai grup bisnis ingin ikut menjadi IPP (Independent Power Producer). “Sah sah saja berbagai grup bisnis itu mengikuti Proyek 35.000 MW . Tapi persyaratan yang diterbitkan oleh PLN juga harus diikuti,” kata Andini kepada PetroEenergy, 23 Oktober 2016 di Jakarta.

Selain itu jangan lupa, katanya, membangun IPP perlu ditangani oleh orang-orang yang ahli dalam bidang kelistrikan. Sebab banyak variable-variabel lain yang berkaitan mulai dari pembebasan lahan, persiapan keuangan, hubungan dengan pemerintah daerah  dan instansi-instansi terkait di bidang kelistrikan. "Jadi kalau mau jadi IPP harus benar-benar serius," tegasnya.

Keikutsertaan Astra di IPP tentunya akan menambah lagi perusahaan yang ingin berbisnis di sektor Energy Ketenagalistrikan. “Namun saya menginginkan Astra juga ada prinisp jiwa idealis, sehingga keberadaan Astra sebagai IPP tidak hanya mencari keuntungan semata tapi bermanfaat juga bagi hal-hal yang bisa diberikan pada rakyat dan bangsa ini dimana pun nantinya proyek Astra berada, “ tukas Andini. (adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category