Opinion

Berakhirnya Sebuah Sengketa

img title

oleh : Awang TA, Geologist dan Geofisika SKK Migas

"Sengketa" antara Total EP Indonesie - perusahaan minyak asal Prancis dan BPMIGAS/ SKK Migas - badan Pemerintah RI pelaksana kegiatan hulu migas, yang berlarut-larut tanpa kesepakatan selama empat tahun,  mencapai kesepakatannya di Gedung Heritage, Kementerian ESDM.

Sengketa itu adalah terkait claim Total bahwa lapangan-lapangan gas di area South Mahakam, lepas pantai Kalimantan Timur (Stupa, West Stupa, Mandu, Jempang, Metulang) adalah lapangan-lapangan dengan konsep eksplorasi baru sehingga berhak mendapatkan insentif new field berupa pembebasan DMO (domestic market obligation) dan investment credit.

Sementara BPMIGAS/SKK Migas menolak claim tersebut. Lalu SKK Migas meminta ITB melakukan evaluasi teknis dan hasilnya ITB sependapat dengan SKK Migas. Tetapi Total pun melakukan hal yang sama, meminta konsultan D&M di Singapore melakukan evaluasi teknis dan hasilnya sependapat dengan Total.

Hm...berarti sengketa - ketidaksepakatan terus terjadi. Ini ibarat kerikil di bawah telapak kaki yang mengganggu keharmonisan hubungan SKK Migas dan Total. Sengketa ini kadang-kadang dibiarkan saja sebab enggan menyelesaikannya. Tetapi pembiaran itu sewaktu-waktu bisa menjadi bom waktu.

***

Maka ketika Menteri ESDM dan Wamennya yang baru diangkat (Ignasius Jonan dan Archandra Tahar), serta wilayah operasi Mahakam akan berakhir dioperasikan Total pada akhir tahun ini, dibuka kembalilah sengketa ini agar tidak menjadi isu tertunda (pending issue) menjelang kontrak Total berakhir di Mahakam.

Dan Pak Archandra Tahar menjadi Ketua Penyelesaian Sengketa. Pada awal Januari kemarin dikumpulkanlah pihak-pihak yang bersengketa. Rapat bersama Wamen ESDM itu memutuskan membentuk Tim Ahli terdiri atas tiga orang: satu dari SKK Migas, satu dari Total, dan satu Independent Consultant.

Independent Consultant harus berkriteria: seseorang yang diakui dan dihormati keahlian spesifiknya di Indonesia, seorang senior dengan pengalaman yang banyak,  tidak berkepentingan pribadi dengan pihak-pihak bersengketa, lurus dan konsisten.

Tim akan bekerja selama sebulan. Apa yang diputuskan oleh Tim Ahli harus diterima oleh kedua pihak yang bersengketa. Tidak ada perdebatan lagi apalagi sebuah arbitrase internasional.

***

Lalu SKK Migas menunjuk saya, Tenaga Ahli Geologi dan Geofisika sebagai wakil Ahli dari SKK Migas. Total menunjuk Bayu Giriansyah, Manajer Geoscience sebagai wakil Ahli dari Total.

Siapa yang layak sebagai Independent Consultant? Lalu saya dan Bayu berdiskusi sebab Ahli ketiga ini harus disepakati oleh SKK Migas dan Total. Menarik, ternyata kami berpikir kandidat yang sama sebelum kami berdiskusi pun, yaitu Prof. Dr. R.P. Koesoemadinata - bapak geologi perminyakan Indonesia. Pak Koesoemadinata kami pikir memenuhi semua kriteria yang ditentukan oleh Pak Wamen ESDM.

Dan selama sebulan kami bertiga berinteraksi, bertemu, atau melalui e-mail.  Data-data lama sampai yang berumur 40-an tahun pun dilihat ulang. Kami berdiskusi, termasuk berdebat. Kami saling berargumen, saling menguji argumen pihak "lawan", termasuk argumen Pak Koesoema. Kami berprinsip semua perbedaan pendapat harus diselesaikan, tidak boleh ada yang menggantung. Kalau benar terima benar, kalau salah jangan dipertahankan. Tim harus bekerja atas dasar profesionalisme geosains.

Karena Pak Koesoema sudah sepuh (81 th.), saya mengusulkan rapat-rapat kami bertiga dilakukan di kediaman Pak Koesoema di Dago Pakar, Bandung. Maka selama sebulan itu saya beberapa kali ke Bandung dari Bogor/Jakarta, dan Bayu terbang dari Balikpapan.

***

Dan kemarin selepas istirahat Maghrib, dalam rapat yang dipimpin oleh Wamen ESDM, dihadiri Ditjen Migas, Manajemen SKK Migas dan Total, kami  menunjukkan hasil pekerjaan selama sebulan, kesimpulan dan rekomendasi.

Tim merekomendasikan Lapangan Stupa mendapatkan insentif new field. Lapangan Mandu tidak. Dan ketiga lapangan: West Stupa, Jempang, Metulang tidak mencapai nilai ambang batas minimum sebagai lapangan dengan konsep eksplorasi baru. Sehingga ketiga lapangan yang disebutkan terakhir itu tidak berhak mendapatkan insentif.

Total tidak bisa meng-claim seluruh lapangan itu sebagai berhak mendapatkan insentif, kecuali Stupa. SKK Migas tidak bisa menolak semua claim Total itu, sebab Stupa secara teknis berhak mendapatkannya.

Pak Archandra menyatakan menerima hasil dan rekomendasi Tim Ahli dan menyarankan  SKK Migas dan Total bersepakat menerimanya juga. "Kita telah konsisten menunjuk Tim Ahli ini, dan konsisten jugalah kita menerima penilaian "para juri" ini. "I put my fate on the Expert Team", ucap Pak Wamen.

Lalu Pak Wamen menyalami kami bertiga -Tim Ahli, seraya berkata, "Saya sudah kuatir Tim Ahli akan saling berbeda pendapat, tetapi Alhamdulillah ternyata sepakat." Saya berkomentar, "Semua perbedaan pendapat dan perdebatan telah kami selesaikan di Bandung sebelum dibawa ke Jakarta ini."

***

Begitulah sebuah sengketa kecil antara Total EP Indonesie dan SKK Migas yang berhasil diselesaikan. Tentu sengketa ini tak bisa dibandingkan dengan skala Freeport versus Pemerintah Indonesia yang jauh lebih besar.

Ketika membuat regulasi, sangat berhati-hatilah, jangan melemahkan diri sendiri, tetapi juga jangan mencekik investasi. Dan jangan libatkan berbagai kepentingan tersembunyi di situ sebab suatu saat akan menjadi bom waktu yang meledak.

Indonesia punya sumberdaya alam, tetapi harus diakui Indonesia di beberapa area dan kondisi masih memerlukan investasi asing untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumberdaya alam. Pintar-pintarlah Pemerintah Indonesia mengelola investasi asing ini. Agar jangan menjadi "a resource curse" buat Negeri ini.[]

Editor: Mulkani Annaf

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category