Investment

Beberapa Cekungan CBM Masih Ekonomis

img title

Jakarta, petroenergy.id -- Brahmantyo, Manajer Senior Keteknikan Geologi dan Geofisika Eksplorasi SKK Migas, menyatakan sebenarnya ekpsplorasi CBM (Coal Bed Methane) di Indonesia masih sangat menarik. Sebab dibeberapa cekungan yang mengandung CBM masih cukup menjanjikan karena batubaranya tebal-tebal dan gas content nya tinggi, yaitu di Cekungan Barito dan Cekungan Sumetra Selatan.

"Permeabilitas batubara di Cekungan Sumatera Selatan umumnya juga cukup tinggi, Sedangkan permebailitas batubara di Cekungan Barito sebagian cukup tinggi, sebagian rendah ," katanya kepada petroenergy (8/7) di Jakarta.

Sementara di Cekungan Kutai, meskipun umumnya gas content tinggi, tetapi ketebalan batubaranya tipis-tipis, sedangkan permeabilitasnya berkisar sedang-tinggi.Bagi batubara yang tebal dan gas content nya tinggi, tetap bisa diproduksikan tetapi memerlukan tambahan metode komplesi, seperti stimulasi (hydraulic fracturing) atau radial jetting (pelubangan jauh batubara secara radial) .

"Ini memang mengakibatkan penambahan cost biaya sumur. Meskipun biaya sumur bertambah, jika sumberdayanya CBM nya besar seperti di Cekungan Barito dan Sumatera Selatan, masih bisa ekonomis dan dikomersialkan. ," katanya.

Contoh menggembirakan terjadi di WK GMB Tanjung Enim, di Cekungan Sumatera Selatan dengan operator NU Energy (sebelumnya Dart Energy), yang telah melakukan dua lokasi Multi well Pilot Production test dengan hasil yang menggembirakan. Sehingga saat ini akan diusulkan ke SKK Migas untuk proses evaluasi kelayakan keekonomian dan komersialisasinya untuk POD secara phasing. Fase pertama area pengembangan diperkirakan contingent resources C1 sebesar 120 BCF dan C2 sebesar 110 BCF.

Besarnya contingent resources tersebut diperkirakan masih ekonomis untuk dikomersialkan. Jika POD disetujui, ini menjadi bukti bahwa Migas non konvensional dari Gas Metana Batubara (CBM) Indonesia dapat dikomersialkan.

Disisi lain, menanggapi keputusan PT Pertamina Hulu Energi yang akan menghentikan eksplorasi CBM dan ingin mengembalikan seluruh WKnya, Brahmantyo menyatakan bahwa pertimbangan PHE tersebut selain karena prioritas korporasi, juga karena hasil Pilot multiwell production test di WK Tanjung II, Cekungan Kutai, yang kurang menjanjikan. "Hanya sekitar 0.2 mscfd/well," jelasnya.

Namun sayangnya, lanjut Brahmantyo, PHE memutuskan prospeksi CBM hanya berdasar ke hasil Pilot Production di WK Tanjung II. Sementara WK-WK CBM PHE di sumatera, belum dilakukan production test baik secara single well maupun multiwell. (adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category