Business

Sektor Tambang INDIKA Terpukul, Sektor Energi Masih Stabil

img title

Jakarta, Petronergy –Pelemahan harga batubara yang berkelanjutan di
tahun 2015 memberi dampak terhadap kinerja keuangan Perusahaan energi
PT Indika Energy Tbk. (“Perseroan”) Di antara perusahaan dalam Grup
Indika Energy, produsen batubara Kideco Jaya Agung mencatat penurunan
pendapatan karena volume penjualan yang lebih rendah, ditambah faktor
penurunan harga jual batubara rata-rata.

Kontraktor batubara Petrosea mengalami penurunan volume pengupasan
lapisan tanah (overburden removal). Perusahaan transportasi dan
logistik Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS) juga mencatat penurunan
kinerja karena berkurangnya volume batubara yang diangkut.

Sementara perusahaan engineering, procurement, and construction (EPC)
Tripatra mengerjakan proyek- proyek besar di tahun 2015 di antaranya
penyelesaian proyek Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi. Selain itu,
kemajuan dicapai Tripatra pada proyek ExxonMobil Cepu dan proyek ENI
Muara Bakau. Bisnis perdagangan batubara mencatat peningkatan
signifikan dalam volume batubara yang diperdagangkan meningkat lebih
dari dua kali lipat dari 3,6 juta ton di tahun 2014 menjadi 8,2 juta
ton selama tahun 2015. Pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas
660MW Cirebon Electric Power (atau lebih dikenal dengan PLTUCirebon)
juga telah beroperasi secara stabil selama tiga tahun dengan kinerja
operasional yang sangat baik.

Pada tahun 2015, Perseroan mencatat pendapatan sebesar US$ 1.097,3
juta, hanya sedikit lebih rendah dibandingkan pendapatan tahun
sebelumnya sebesar US$ 1.109,5 juta. Perseroan juga berupaya merespon
penurunan bisnis dengan melakukan perampingan dan rasionalisasi
kegiatan operasional. Upaya ini membuahkan hasil dengan tercapainya
penurunan biaya operasional total sebesar US$ 28,5 juta, yang
menunjukkan penurunan sebesar 21,6% dibandingkan tahun 2014.

Implementasi inisiatif manajemen liabilitas pada akhir tahun untuk
menebus lebih awal US$ 128,6 juta dari obligasi Perseroan yang jatuh
tempo tahun 2018 juga menghasilkan perolehan keuntungan bersih senilai
US$ 46,8 juta. Perseroan berhasil mengurangi utangnya sebesar US$ 40,5
juta menjadi US$ 970,2 juta pada tahun 2015, dengan tetap
mempertahankan kas dan aset keuangan lainnya sebesar US$ 339,4 juta.

Walaupun pengembangan bisnis dan inisiatif telah dilakukan, dengan
memperhitungkan penurunan nilai terhadap dua proyek batubara senilai
US$ 53,2 juta, Perseroan melaporkan Rugi Bersih yang Dapat
Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk di tahun 2015 sebesar US$
44,6 juta.

“Menyadari beratnya industri batubara, fokus Perseroan adalah menjaga
stabilitas keuangan di tingkat induk dan anak perusahaan, serta
meningkatkan kinerja seluruh anak perusahaan. Untuk melakukan hal ini,
Perseroan terus melakukan pemangkasan biaya, memperketat belanja
modal, menjaga cadangan kas dan mengurangi beban utang, seraya
mendorong setiap anak perusahaan untuk meningkatkan tingkat utilisasi
kapasitas serta memperoleh kontrak dan pelanggan baru,” tutur Direktur
Utama Arsjad Rasjid.

Ke depannya, Perseroan berkomitmen untuk terus mengoptimalkan nilai
jangka panjang bagi semua pemangku kepentingan dengan keyakinan bahwa
energi akan tetap menjadi kebutuhan utama bagi dunia. Perseroan terus
menjajaki potensi bisnis intensif non-kapital dalam sektor-sektor
terkait, yang sesuai dengan kompetensi utama Perseroan.

“Target pemerintah untuk membangun kapasitas pembangkit listrik baru
sebesar 35.000 MW dapat meningkatkan penyerapan batubara domestik,
yang secara bertahap sudah meningkat dari tahun ke tahun. Pelaksanaan
program infrastruktur nasional juga memberi peluang bagi Perseroan
dalam bisnis engineering, procurement, and construction (EPC) atau
logistik,” tambah Arsjad. (adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category