Global

Kerjasama Bidang Migas Akan Dibahas Bersama Raja Salman

img title

Jakarta, petroenergy.id - Kepala Biro Komunikasi Layanan Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Sujatmiko, mengatakan, kedatangan Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud, ke Indonesia pada pekan ini, antara lain akan membahas kerja sama impor minyak mentah hingga peluang memasok avtur ke Arab Saudi.

Sujatmiko menjelaskan, setidaknya ada empat kerjasama  sektor migas  yang akan dibicarakan,  diantanya  rencana pembelian minyak mentah dari Saudi Aramco, perusahaan negara milik Arab Saudi. "Hal pembelian minyak mentah, kami minta harga spesial," kata Sujatmiko, Senin (27/2).

Pembelian minyak mentah dari Arab Saudi dengan harga lebih murah dibandingkan harga pasar, seperti  jenis  Arabian Light Crude dengan volume sebesar 110 ribu barel per hari (bph).

Sujatmiko mengatakan, kerja sama lainnya adalah impor elpiji dari Arab Saudi. Pemerintah berharap setengah dari total impor elpiji dipasok dari Arab. Saat ini PT Pertamina (Persero) mengimpor elpiji hingga mencapai 5 juta metrik ton per tahun.

Selain itu, pemerintah Indonesia akan melobi Arab Saudi agar Pertamina bisa memasok bahan bakar pesawat di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, Arab Saudi. Saat ini, sudah ada enam operator yang menyediakan bahan bakar pesawat (avtur) di bandara tersebut.

"Kalau dilihat Frekuensi penerbangan ke Jeddah dari Indonesia meningkat, ini yang menarik bagi Pertamina untuk masuk," kata Sujatmiko. 

Sementara, Pemerintah melalui Pertamina juga akan membuka peluang kerja sama dengan Arab Saudi untuk dapat ikut menggarap kilang minyak di Indonesia. Salah satunya adalah proyek kilang minyak di Bontang, Kalimantan Timur.

Pertamina dan Arab Saudi melalui Saudi Aramco sudah menjalin kerja sama pembangunan kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah. Proyek peningkatan kapasitas dan kompleksitas (Refinery Development Master Plan/RDMP) dari 348 ribu barel per hari menjadi 400 ribu barel per hari dengan nilai US$ 5 sampai 6 miliar.

Selain kilang minyak di Cilacap, Pertamina dan Saudi Aramco, juga awalnya memiliki kerja sama pengembangan Kilang Balongan dan Dumai. Penandatanganan nota kesepahaman kerja sama untuk tiga kilang ini dilakukan pada 10 Desember 2014.

Setelah itu kedua belah pihak menandatangani Head of Agreement (HoA) pada 26 November 2015 dan berlaku selama satu tahun. Setelah ada kesepakatan itu, seharusnya 26 November 2016, sudah ada tindak lanjut yakni pembentukan perusahaan mitra.

Namun, sampai batas waktu HoA habis, tidak ada titik temu antara Pertamina dan Saudi Aramco. Pertamina ingin proyek kilang, terutama Balongan, digarap secepatnya. Di sisi lain Saudi Aramco tidak sepakat dengan keinginan Pertamina tersebut. 

Jika tidak segera digarap, Kilang Balongan akan kekurangan pasokan bahan baku. Selama ini bahan bakunya berasal dari Kilang Balikpapan yang juga sedang memulai proses modernisasi. Artinya dia tidak lagi memproduksi nafta. Jadi, Kilang Balongan juga harus modernisasi supaya tidak lagi bergantung nafta.

Untuk informasi, proyek kilang Balongan adalah peningkatan kompleksitas dan kapasitas dari 125 ribu bph menjadi 280 ribu bph. Proyek ini ditargetkan rampung pada 2023 dengan investasi US$ 2,7 miliar.

Menyinggung proyek Kilang Dumai, ada tambahan kapasitas dari 175 ribu bph menjadi 300 ribu bph. Harapannya bisa selesai pada 2023 dan investasi US$ 4,2 miliar. (mk)

 

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category