Maritime

Bedah Buku Poros Maritim Dunia "Between Threats and Opportunisties" Karya Laksda, Aan Kurnia

img title

Jakarta, petroenergy.id – Panglima komando armada kawasan barat (Pangarmabar) Laksda TNI Aan Kurnia melaksanakan launching dan bedah buku berjudul Facing World Maritime Fulcrum (menyongsong poros maritim dunia) 'Between Threats and Opportunisties', di Aula Yos Sudarso, jalan Gunung Sehari, Jakarta Pusat, Selasa  (31/10/2017).

Buku tersebut bercerita secara lugas tentang peluang dan ancaman di wilayah laut bagian barat Indonesia. Buku ini dibedah bersama Guru Besar Universitas Indonesia, Prof Melda Kamil Ariadono, S.H, LL.M, Ph.D, Deputi V Kantor Staf Presiden RI, Dra. Jaleswari Pramodhawardani, M.Hum dan Pengamat Militer Dr. Connie Rahakundini Bakri yang, dimoderatori oleh Balques Manisang. 

Aan Kurnia menjelaskan, sejak ia mendapat kepercayaan sebagai Pangarmabar setahun lalu, dia melihat begitu kompleks permasalahan di wilayah barat sehingga tertantang untuk mengungkap permasalahan ini dalam sebuah buku. “Itu awalnya. Begitu banyak ancaman dan tantangan, sekaligus kami melihat begitu banyak peluang yang berbau maritim yang harusnya dimanfaatkan," katanya.

Saat jumpa pers usai melaksankan bedah buku,  Aan menuturkan alasan ia menulis buku adalah untuk memberi gambaran terkait poros maritim sesuai dengan program Presiden Joko Widodo. Buku ini pun, disisipi beberapa kutipan  terkait kemaritiman yang dikutip dari presiden pendapat Presiden Pertama, Soekarno sampai pada pendpat Presiden sekarang, Joko Widodo.

Aan Kurnia lebih jauh menuturkan,  dia lebuh terdorong oleh penuturan Presiden Joko Widodo terkait potensi kalautan. "Ada satu hal dari presiden Jokowi, yang saya ingat 'Di laut tersimpan harapan, Di laut tersimpan kejayaan, Jalesveva Jayamahe," kata Aan Kurnia.

Buku eksklusif setebal 334 halaman itu terdiri dari lima pembahasan. Bagian pertama, kata Aan,  berisi tentang potensi kekayaan yang ada di laut Indonesia. Menurutnya, hal ini bisa dijadikan modal dasar pembangunan nasional. Namun itu, dari potensi tersebut,kata dia ada beberapa ancaman yang muncul akibat banyaknya konflik.

Dia mencontohkan, salah satu ancaman dan permasalahan yang muncul adalah batas wilayah Indonesia dengan negara tetangga, yang menurutnya masih ada yang belum definitif.

Pada bagian kedua, buku memaparkan posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dunia. Menurut Aan Kurnia, kondisi  geografis jika tidak diawasi alias  dibiarkan begitu saja maka tidak tertutup kemungkinan terjadi ancaman ancaman seperti lepasnya Timor-Leste dan Pulau Sipadan dan Ligitan, di waktu yang lalu.

Sedangkan di bagian ketiga buku ini mengulas mengenai aturan perundang-undangan internasional yang menjadi dasar hukum laut. Di bagian keempat buku Aan membahas perihal terkait implementasi tugas tanggung jawab Komando Armada Kawasan Barat (Koarmabar) dalam memberikan jaminan keamanan NKRI, khusnya di wilayah barat.

Pada bagian  terakhir, Bab V diawali dengan kutipan pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengatakan: Di laut tersimpan harapan…Di laut tersimpan kejayaan…Jalesveva jayamahe. Pada Bab ini Aan Kurnia bercerita banyak tentang posisi geografi Indonesia. Menurutnya, secara geografis Indonesia berada di antara Benua Asia-Benua Australia; Samudra Hindia-Samudra Pasifik.

Posisi ini, kata Aan, menjadikan Indoneaia memiliki nilai strategis karena menjadi jalur lalu linatas internasional sekaligus menjadi transit perdagangan dunia, khususnya wilayah bagian barat. Posisi strategis ini yang menurtnya perlu diantisipasi dini supaya terhindar dari berbagai kekhawatiran. “Misalnya, adanya kekuatan asing ingin memetik keuntungan dengan cara memanfaatkan posisi silang Indonesia, ini harus diantisipasi dini,” kata Aan Kurnia.

Sementara, ketiga pembedah buku, Prof Melda Kamil Ariadono, Jaleswari Pramodhawardani dan Dr. Connie Rahakundini Bakri, menyatakan, sependapat bahwa buku karangan Aan Kurnia sangat relevant dengan visi poros maritime Indonesia. "Diharapkan buku Pak Aan ini dapat menginspirasi semua kekuatan yang ada terkait program poros maritim Indonesia ke depan," kata Dr Connie.

Namun itu,  DR. Connie dan Prof Melda Kamil Ariadono mengomentari tetang mengapa penulis buku, tidak menyebut negara Australia sebagai peluang dan ancaman. Saat dicegat PetroEnergy - usai bedah buku, Prof Melda Kamil Ariadono dan DR Connie Rahakundini Bakri, mengatakan, bahwa Australia juga berambisi untuk mengetahui detail isi laut Indonesia. "Ya, seharusnya, di bukunya, Pak Aan Kurnia, ini tidak hanya menyebut Amireka Serikat (AS) dan Cina saja sebagai peluang dan anacaman, akan tetapi juga Australia. Mungkin, ini bisa sebagai bahan koreksi buku berikutnya,” kata Melda Kamil Ariadono.

Saat dikonfirmasi, Aan Kurnia, menyatakan, Australia memiliki hubungan dekat dengan AS. Kata lain, Australia mengikuti apa kemauan AS; Australia di bawah bayang bayang AS. “Ya, di buku ini secara eksplisit saya hanya menyebut negara AS dan Cina saja sebagai peluang dan ancaman, Australia tidak... karena alasan itu,” kata Aan Kurnia.

Dapat diinformasikan, setelah dilaunching, buku yang ditulis oleh seorang TNI aktif ini segera beredar di toko-toko buku terkemuka di ibukota Jakarta dan sekitarnya.(mk)

 

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category