Investment

Pemerintah Mencoba Tekan Harga Gas Dibawah USD 8 Per MMbtu

img title

Jakarta, PetroEnergy.id -- Sebagai produsen dan eksportir gas, maka harga gas industri di Indonesia sekitar USD 8-10 per Million Metric British Thermal Unit (MMbtu) saat ini dinilai masih terlalu mahal. Jika kita bandingkan dengan Negara- negara di Asia Tenggara seperti; Malaysia ;USD 4,47 per MMbtu, Filipina USD 5,43 per MMbtu, dan Vietnam sekitar USD 7,5 per MMbtu, dan bahkan Singapura yang mendapatkan pasokan dari Indonesia juga bisa lebih murah dengan harga sekitar USD 4-5 per MMbtu.

Menanggapi hal ini, Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto menyatakan bahwa pihaknya memang ingin menurunkan harga gas dengan berbagai cara seperti memangkas toll fee, ongkos regasifikasi, dan penurunan harga gas di hulu.

"Kita sedang kaji dan hitung semua itu. Termasuk goverment tax rencana kita kurangin dan splitnya kita buat sedemikian rupa supaya kontraktornya semakin baik. Insentif juga kita kaji. Intinya kita coba menekan cost di biaya produksi hulu supaya harganya bisa turun," kata Djoko kepada awak media seusai acara Indo Pipe 2016 30 Agustus 2016 di Jakarta.

Sebenarnya, lanjut Djoko, harga rata-rata gas di hulu sekarang USD 4-5 per MMbtu dengan asumsirata- rata harga minyak US$ 40/barel. Namun karena berbagi faktor maka harga gas jadi dua kali lipat di hilirnya. Faktor tersebut antara lain ; trasnportasi kargo, pengolahan di regas, kandungan H2s dan Co2 tinggi sehingga memerlukan teknologi removal dan bahkan dan juga sumber gas nya bila itu berasala dari offshore.

"Maka target awalnya kita coba kurangi kurang 10% semua faktor tersebut agar bisa di bawah USD 10 per MMbtu," usul Djoko.

Sementara itu, Anggota Komite BPH Migas Abdul Qoyum Tjandranegara menyatakan bahwa salah satu yang menjadikan harga gas mahal itu karena kebijakan ekspor. Padahal, kata dia, ekspor gas sebagai gantinya impor BBM tidak menguntungkan Negara, karena harga gas lebih murah 55% dari harga BBM. "Selain itu lenih lebih efisien 1,1 – 1,3 kali, dan lebih bersih atau non polutif." katanya kepada PetroEnergy.id belum lama ini.

Sebaliknya kalau gas dimanfaatkan untuk keperluan domestik akan menghemat devisa serta menghemat biaya operasi sektor industri, listrik dan transportasi disamping dapat menghemat subsidi energi. "Penghematan-penghematan ini akan bermuara kepada kenaikkan perekonomian atau PDB Indonesia." tukas Qoyum. (adi)

ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small ads-small

Job Posting

No job posted

Oil Price

Exchange Rate

All Category